Peta Jalan Proton FC hingga 2031 Dimulai dari Peluang Naik ke Pro Futsal League

Proton FC menempatkan periode 2026 hingga 2031 sebagai jalur utama untuk membangun kekuatan klub. Peta jalan tersebut kini beriringan dengan kesempatan mengikuti proses bidding license Pro Futsal League untuk musim 2026/2027 dan musim berikutnya.

Kesempatan itu hadir setelah Proton FC menjadi juara edisi perdana Pro Futsal League 2. Bagi klub asal Kuningan, Jawa Barat, pencapaian tersebut membuka pintu menuju persaingan futsal profesional Indonesia.

Bidding License Bukan Akhir Perjalanan

Proses bidding license menjadi fase penting, tetapi Proton FC tetap menekankan pembangunan yang bertahap. Klub memandang perjalanan ke level tertinggi harus ditopang pembinaan, kesiapan tim, serta pembenahan organisasi.

Setelah Pro Futsal League 2 berakhir, Proton FC melakukan evaluasi di seluruh lini. Penilaian itu mencakup tim dan kepelatihan sebagai dasar untuk memperbaiki target pada musim berjalan maupun masa depan.

Presiden Proton FC Thoni Indra Gunawan mengatakan klub ingin menjadi tim yang kompetitif. Di sisi lain, Proton FC juga membawa target untuk merepresentasikan aspirasi komunitas futsal Jawa Barat.

“Kami ingin membangun tim yang kompetitif dan mampu merepresentasikan cita-cita insan futsal masyarakat Jawa Barat,” kata Thoni. Ia menyatakan klub menjalankan langkah bertahap dengan berpegang pada peta jalan 2026 sampai 2031.

Kemitraan yang Dipandang Lebih Luas dari Apparel

Proton FC turut memperkuat langkahnya melalui kerja sama jangka panjang dengan Imane Thailand. Kemitraan itu diperkenalkan saat peluncuran awal di Hotel Mercure Bandung pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Kolaborasi tersebut diperkenalkan dengan tajuk “Proton FC x Imane, Wear the Game. Live the Passion.” Thoni menilai kerja sama itu tidak terbatas pada kebutuhan apparel, melainkan dapat dikembangkan melalui ekosistem futsal yang telah dibangun klub.

“Momentum ini sangat baik bagi Proton FC karena kami memiliki irisan visi yang sama dengan Imane,” ujar Thoni. Ia menyebut sinergi global itu memiliki kepentingan yang lebih luas dari kerja pembangunan ekosistem futsal selama tiga tahun.

Presiden Imane, Takkasit Tai Jittivanich, menilai Indonesia berpeluang berkembang menjadi salah satu kekuatan futsal Asia. Menurutnya, talenta muda, tingginya minat anak-anak, dan dukungan pembinaan merupakan modal yang dapat diperkuat dengan sistem yang tepat.

“Hal paling penting dalam futsal adalah orang-orangnya,” kata Takkasit. Ia menilai Proton FC memiliki unsur penting tersebut melalui orang-orang yang bekerja di dalam klub.

Berangkat dari Akademi Kuningan

Sebelum meraih kesempatan menuju Pro Futsal League, Proton FC memulai kiprah sebagai akademi di Kuningan. Jalur pembinaan itu menjadi titik awal klub untuk membentuk perjalanan yang lebih panjang.

Proton FC kemudian mengikuti Liga Nusantara sebelum melanjutkan kompetisi ke Pro Futsal League 2. Gelar juara pada edisi pertama kompetisi tersebut menjadi pencapaian yang membawa klub ke proses bidding license.

Liputan6.com melaporkan Proton FC telah dibangun selama tiga tahun dengan fokus pada pengembangan bertahap. Periode itu menjadi fondasi bagi klub sebelum menargetkan posisi dalam ekosistem futsal profesional Indonesia.

“Dari sebuah akademi di Kuningan, kami bertransformasi menjadi klub yang mengikuti kompetisi dari jenjang terbawah,” ujar Thoni. Ia menyebut Proton FC akhirnya mendapat jalan untuk menjadi bagian dari klub profesional yang bertanding di Pro Futsal League Indonesia.

Dengan peta jalan hingga 2031, evaluasi internal, dan kemitraan dengan Imane Thailand, Proton FC menyiapkan kelanjutan perjalanan tersebut secara terukur. Peluang bidding license menjadi langkah berikutnya dalam upaya klub beralih dari fondasi akademi menuju panggung profesional.

Baca Juga