Pertemuan di Gedung Putih Menguji Aliansi Trump-Netanyahu di Tengah Perang Iran

Pertemuan Benjamin Netanyahu dan Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa (28/7/2026) berlangsung saat aliansi keduanya menghadapi perbedaan strategi yang semakin nyata. Netanyahu datang dengan dorongan untuk mempertahankan tekanan terhadap Iran, sementara Trump dinilai lebih terbuka mencari kesepakatan.

Perbedaan itu dapat menentukan arah keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik berikutnya. Kedua negara sebelumnya dikaitkan dengan sasaran perang yang sama, tetapi kepentingan mereka kini bergerak ke jalur yang berbeda.

Netanyahu tiba di Washington setelah berangkat pada Senin untuk kunjungan kedelapannya sejak Trump terpilih untuk masa jabatan kedua. Ia menempatkan Iran sebagai pokok agenda pembicaraan dengan presiden AS tersebut.

Dalam pernyataan resminya sebelum keberangkatan, Netanyahu mengatakan, “Saya menjalankan misi ini dengan satu tujuan jelas, untuk memastikan keamanan, kekuatan, dan masa depan negara Israel yang kita cintai.” Pernyataan itu disampaikan ketika ia menghadapi tekanan politik dalam negeri menjelang pemilu musim gugur di Israel.

Sasaran perang masih tertunda

Menurut laporan Media Indonesia yang mengutip New York Times, perang melawan Iran yang dimulai pada akhir Februari belum mencapai dua target besar. Program nuklir Iran belum dihentikan dan rezim ulama di Teheran belum terguling.

Trump juga menghadapi tekanan menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November. Perang yang tidak populer menjadi beban politik tambahan bagi pemerintahannya.

Perbedaan pandangan mengenai langkah berikutnya membuat kesamaan sasaran awal tidak lagi cukup untuk menjaga strategi bersama. Israel memandang ancaman nuklir Iran sebagai isu eksistensial, sementara AS juga memberi perhatian besar pada pemulihan jalur minyak global.

PersoalanPendekatan IsraelPendekatan AS
Program nuklir IranTekanan keras untuk menghilangkan ancamanMembuka kemungkinan perundingan
Selat HormuzBukan fokus utama yang disebutkanMemulihkan pengiriman minyak dunia
Perang lanjutanBerpotensi kembali ke jalur militerDapat membatasi peran Israel

Israel menolak ruang kompromi

Danny Citrinowicz, spesialis Iran dari Institute for National Security Studies di Tel Aviv, menilai perbedaan kepentingan kini terlihat jelas. “Kita melihat Trump tertarik untuk mencapai kesepakatan (dengan Iran), sementara Israel tidak ingin mendengar tentang kesepakatan apa pun,” ujarnya.

Israel khawatir kesepakatan yang dimediasi AS justru memperkuat pemerintah di Teheran. Karena itu, kepemimpinan Israel disebut lebih memilih kembali ke pendekatan perang daripada menerima perjanjian yang dianggap tidak cukup membatasi Iran.

Perbedaan prioritas paling jelas tampak pada Selat Hormuz. Trump memperhatikan pemulihan arus lalu lintas pengiriman minyak, sedangkan Israel tidak menggeser perhatian utamanya dari ambisi nuklir Iran.

Sejumlah analis menilai AS dapat bergerak tanpa melibatkan Israel apabila serangan diperluas. Washington disebut ingin menghindari kesan kolaborasi yang tidak berhasil pada periode sebelumnya.

Ketegangan meluas ke isu kawasan

Pemerintahan Trump tidak hanya menekan Israel dalam isu Iran. Washington juga membatasi aksi militer Israel terhadap Hizbullah dan mendesak penarikan pasukan Israel dari Libanon selatan serta Suriah.

Israel menghadapi tekanan tambahan dari gencatan senjata Gaza yang mulai goyah dan meningkatnya kekerasan di Tepi Barat. Kondisi tersebut membuat ruang gerak Netanyahu semakin sempit menjelang pemilu.

Hubungan pribadi Trump dan Netanyahu juga disebut berfluktuasi meski keduanya pernah terlihat akrab. Trump pernah berkata, “Dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” dan komentar itu memicu kemarahan loyalis Netanyahu.

Kekhawatiran Israel semakin besar setelah Trump menandatangani perjanjian dengan Arab Saudi untuk pengembangan program nuklir sipil pada pekan sebelumnya. Trump menyebut normalisasi hubungan Saudi-Israel sebagai syarat kesepakatan itu, tetapi Israel tetap mencemaskan kemungkinan perlombaan senjata regional.

Perdebatan mengenai perubahan kepemimpinan Iran turut menambah kerumitan tujuan perang. Citrinowicz menilai terdapat ironi karena Netanyahu pernah mendorong Trump menghabisi Ayatollah Ali Khamenei untuk mencegah senjata nuklir, sementara tuntutan menghentikan ambisi nuklir Teheran tetap bertahan setelah muncul pemimpin baru.

Dalam situasi itu, pertemuan di Gedung Putih menjadi ruang penting untuk mengukur kembali batas kerja sama kedua negara. Netanyahu memiliki rekam jejak memengaruhi Trump pada saat-saat terakhir, tetapi perbedaan kepentingan kali ini membuat hasilnya sulit dipastikan.

Baca Juga