Gedung Putih Diyakini Tak Menerima Gambaran Utuh soal Menipisnya Rudal AS

Tudingan bahwa Gedung Putih tidak menerima gambaran utuh mengenai stok rudal AS mencuat di tengah kemungkinan perluasan operasi militer terhadap Iran. Persoalan ini menjadi penting karena persediaan pencegat pertahanan udara dan senjata serang disebut berada di bawah tekanan besar.

Sejumlah sumber anonim yang dikutip The Telegraph menilai informasi buruk sulit sampai kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Mereka menyebut adanya dugaan budaya bungkam yang dapat menghambat penyampaian kondisi nyata di lapangan.

Lingkaran Penasihat Disebut Menyempit

Sumber internal menilai lingkaran penasihat Hegseth semakin sempit dan tidak selalu menyampaikan penilaian yang tidak menyenangkan. Salah satu sumber menyatakan bahwa membawa informasi realistis tampaknya tidak berakhir baik bagi pihak yang melakukannya.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi kualitas informasi yang diterima Presiden Donald Trump saat memutuskan langkah militer. Seorang pejabat AS yang dikutip The Washington Post juga memperingatkan bahwa stok yang ada tidak cukup untuk mempertahankan operasi dengan aman.

Kekhawatiran soal kesiapan tempur bertambah setelah tiga personel militer AS tewas dalam serangan di Yordania dan Irak. Trump kemudian memerintahkan Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, serta pimpinan militer lain untuk membalas setiap kematian tentara AS berkali-kali lipat.

Persediaan Kritis Memerlukan Waktu Lama untuk Pulih

Stok Tomahawk disebut terus menurun sejak Operation Epic Fury, sementara rudal THAAD juga menjadi sorotan karena persediaan pencegatnya menipis. Kedua jenis amunisi memiliki fungsi berbeda, tetapi sama-sama dibutuhkan apabila konflik meningkat.

SistemPeran yang DisorotProyeksi Pemulihan
THAADPencegat pertahanan udara2029
TomahawkSenjata serang2031

Proyeksi Center for Strategic and International Studies menyebut stok THAAD diperkirakan kembali ke tingkat semula pada 2029. Persediaan Tomahawk diperkirakan baru pulih pada 2031.

Ryan Brobst dari Foundation for Defence of Democracies mengatakan penurunan stok memaksa militer mengambil risiko lebih besar. Ia mencontohkan kemungkinan penggunaan satu pencegat untuk satu rudal lawan, alih-alih dua pencegat.

Penggunaan satu pencegat dapat menurunkan peluang keberhasilan intersepsi. Kerentanan itu menjadi lebih besar ketika ancaman rudal datang berulang dan operasi berlangsung dalam waktu lama.

Tekanan Operasi Terus Bertambah

Analisis Royal United Services Institute pada Maret menyatakan AS dan sekutunya telah menggunakan lebih dari 11.000 amunisi dalam 16 hari pertama perang. Amunisi kritis diperkirakan habis sekitar sebulan kemudian.

Di tengah tekanan itu, Pentagon disebut makin yakin intensitas konflik terhadap Iran perlu ditingkatkan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Langkah tersebut dapat menambah beban pada stok yang diperlukan untuk serangan sekaligus pertahanan udara.

AS telah memindahkan jet tempur F-35 dan F-16 dari pangkalan di Inggris serta Jerman menuju Timur Tengah. Pengerahan itu didukung pesawat pengisian bahan bakar di udara untuk menopang operasi kawasan.

Pentagon membantah menutupi informasi mengenai kondisi perang ataupun korban militer. Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menyebut tudingan tersebut sebagai rekayasa untuk memicu keresahan publik setelah kematian tiga personel AS.

Gedung Putih menyampaikan bantahan serupa dan menegaskan amunisi AS masih memadai bagi tujuan strategis Trump. Juru Bicara Anna Kelly mengatakan Trump terus mendorong industri pertahanan domestik meningkatkan produksi persenjataan.

Perbedaan antara keterangan sumber internal dan bantahan resmi membuat kesiapan amunisi menjadi faktor penting dalam operasi AS terhadap Iran. Ketersediaan rudal pencegat serta senjata serang akan menentukan kemampuan operasi berjalan tanpa memperbesar risiko bagi pasukan AS.

Baca Juga