Penjualan motor listrik Indonesia yang sempat mencapai puncak pada 2024 turun menjadi 55.059 unit pada 2025. Di tengah pelemahan tersebut, pemerintah menyiapkan skema insentif baru dan menyebut ALVA serta Gesits sebagai produk yang terkait dengan dukungan itu.
Langkah ini penting bagi industri karena kapasitas pabrik kendaraan listrik roda dua dan tiga sudah mencapai 2,511 juta unit per tahun. Tantangannya bukan hanya membangun fasilitas produksi, melainkan memastikan permintaan tumbuh secara berkelanjutan.
Penjualan belum mempertahankan laju kenaikan
Pasar motor listrik tumbuh kuat dalam dua tahun awal pada data yang tersedia. Penjualan tercatat 17.198 unit pada 2022, lalu melonjak menjadi 62.409 unit pada 2023.
Pada 2024, penjualan naik lagi menjadi 77.078 unit. Namun, capaian 2025 yang berjumlah 55.059 unit menunjukkan pasar belum mempertahankan pertumbuhan tersebut.
| Tahun | Penjualan | Keterangan |
|---|---|---|
| 2022 | 17.198 unit | Awal pertumbuhan pasar |
| 2023 | 62.409 unit | Naik tajam |
| 2024 | 77.078 unit | Angka tertinggi |
| 2025 | 55.059 unit | Turun dibandingkan 2024 |
Program bantuan pembelian roda dua berbasis baterai sebelumnya memberi dorongan besar terhadap penyaluran motor listrik. Program pada 2023 dan 2024 itu melibatkan 22 industri serta 70 tipe atau model.
Penyaluran bantuan mencapai 11.532 unit pada 2023 dan meningkat menjadi 62.541 unit pada 2024. Secara kumulatif, bantuan pembelian telah diterima oleh 74.073 unit motor listrik.
Skema insentif masih dimatangkan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan skema insentif kendaraan listrik masih dalam tahap pematangan. Ia menyatakan anggarannya sudah ada dan telah mendapat persetujuan Presiden.
Airlangga kemudian menyebut dua merek motor listrik produksi dalam negeri, yaitu ALVA dan Gesits. “Untuk produknya, salah satunya Alva, salah duanya Gesits,” ujarnya setelah konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Jakarta.
| Merek | Keterangan |
|---|---|
| ALVA | Disebut sebagai salah satu produk yang mendapat insentif |
| Gesits | Disebut sebagai produk lain yang mendapat insentif |
Rincian teknis kebijakan belum dijelaskan lebih lanjut. Meski demikian, pengalaman program bantuan sebelumnya menunjukkan insentif dapat menjadi faktor penting dalam memperluas penyerapan pasar.
Utilisasi pabrik menjadi pekerjaan berikutnya
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyebut 69 perusahaan kendaraan listrik roda dua dan tiga telah beroperasi dengan investasi sekitar Rp1,2 triliun. Indonesia juga memiliki 14 perusahaan kendaraan listrik roda empat berkapasitas 409.860 unit per tahun.
Selain itu, 10 perusahaan kendaraan komersial listrik memiliki kapasitas 7.500 unit per tahun. Total investasi industri perakitan kendaraan listrik nasional tercatat sekitar Rp30,468 triliun.
Menurut Agus, pengembangan ekosistem harus mencakup penguasaan teknologi, pendalaman struktur industri, dan peningkatan penggunaan komponen lokal. Pendekatan itu diharapkan dapat membuat pertumbuhan pasar berjalan seiring dengan pemakaian kapasitas manufaktur.
Agenda tersebut turut dikaitkan dengan peluncuran Motor Listrik Nasional atau MoLiNas di fasilitas produksi ALVA di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Presiden Prabowo Subianto meninjau proses produksi dan stan ekosistem kendaraan listrik, lalu menandatangani plakat produksi ALVA sebanyak 20 ribu unit.






