Penjualan motor listrik baru di Indonesia masih sekitar 60.000 unit, padahal jumlah sepeda motor nasional telah mencapai 140 juta unit. Angka tersebut memperlihatkan bahwa Program Motor Listrik Nasional masih menghadapi tantangan besar untuk mengubah potensi menjadi permintaan.
Hambatan konsumen tidak hanya terletak pada harga kendaraan saat dibeli. Kepastian nilai jual kembali, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, jaminan baterai, serta akses energi turut menentukan minat masyarakat.
Rasa aman menjadi pertimbangan utama
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menilai umur baterai dan jaminannya merupakan unsur penting dalam penerimaan pengguna. Pengelolaan baterai bekas juga perlu dipersiapkan agar kepercayaan terhadap kendaraan listrik semakin kuat.
Standar baterai, sistem pengisian energi, dan pertukaran komponen perlu dikembangkan untuk mencegah ekosistem yang terpecah. Tanpa keseragaman yang memadai, kemudahan penggunaan motor listrik berpotensi menjadi persoalan bagi konsumen.
Pasar sepeda motor baru sebenarnya berada di kisaran 6–7 juta unit setiap tahun. Skala itu menunjukkan ruang pertumbuhan masih terbuka, asalkan hambatan biaya dan layanan dapat ditangani secara nyata.
Kredit murah tidak cukup jika bank menanggung sendiri
Josua memandang bunga lebih rendah, tenor lebih panjang, uang muka ringan, dan opsi tukar tambah dapat mendorong pembiayaan motor listrik. Namun, risiko pembiayaan tidak seharusnya seluruhnya dibebankan kepada sektor perbankan.
Skema penjaminan atau pembagian risiko dapat mendukung penyaluran kredit bagi kendaraan listrik. Dukungan serupa perlu menjangkau pemasok tingkat kedua dan ketiga, termasuk usaha kecil pembuat komponen.
Pengadaan oleh pemerintah, BUMN, dan perusahaan besar dapat membentuk pasar penyangga pada masa awal. Kebijakan itu perlu disertai ketentuan mengenai mutu, kandungan lokal, dan harga yang kompetitif.
Industri harus bergerak melampaui perakitan
Indonesia memiliki sekitar 46% cadangan nikel dunia, yang menjadi salah satu bahan baku pengembangan baterai. Modal hulu itu didukung investasi hilirisasi sebesar Rp300,1 triliun pada semester I/2026.
| Data | Nilai | Implikasi |
|---|---|---|
| Sepeda motor di Indonesia | 140 juta unit | Potensi pasar besar |
| Penjualan motor listrik | Sekitar 60.000 unit | Adopsi masih rendah |
| Investasi hilirisasi semester I/2026 | Rp300,1 triliun | Dukungan industri hulu |
| Investasi sektor nikel | Sekitar Rp71 triliun | Basis bahan baku baterai |
Sekitar Rp71 triliun dari investasi hilirisasi tersebut masuk ke sektor nikel. Meski begitu, sekitar 70,9% investasi hilirisasi masih berasal dari penanaman modal asing, sehingga penguasaan teknologi nasional tetap menjadi pekerjaan rumah.
Pengembangan Motor Listrik Nasional harus mencakup komponen bernilai teknologi tinggi, bukan sekadar perakitan kendaraan. Sel dan paket baterai, motor penggerak, sistem pengendali tenaga, elektronik, perangkat lunak, serta sistem keselamatan perlu masuk dalam penguatan rantai pasok domestik.
Kapasitas pemasok, tenaga kerja, mutu produksi, dan waktu pengiriman menjadi unsur yang harus dibenahi secara beriringan. Penambahan merek tidak akan cukup bila komponen utama dan teknologi masih bergantung pada pihak luar negeri.
Persaingan produsen tetap diperlukan untuk memperkuat pasar, tetapi harus diikuti transfer teknologi dan peningkatan TKDN. Keberhasilan Molinas juga bergantung pada kemampuan Indonesia menghasilkan nilai tambah domestik, pekerjaan berketerampilan tinggi, serta ekspor kendaraan dan komponen.






