Minat masyarakat terhadap rumah belum surut, meski keputusan membeli kini semakin penuh perhitungan. Sepanjang semester I 2026, pencarian rumah tumbuh rata-rata 13 persen per bulan, sementara calon pembeli tetap selektif menentukan pilihan.
Aktivitas pencarian properti sempat sedikit menurun, tetapi keinginan untuk menghubungi agen atau pemilik rumah bertahan stabil. Kondisi ini memperlihatkan kebutuhan hunian masih kuat di tengah biaya hidup yang meningkat dan situasi ekonomi yang dinamis.
Lokasi dengan dukungan transportasi menjadi salah satu tujuan pencarian yang menonjol. Tol Jogja-Solo dan LRT Jabodebek mendorong minat terhadap hunian di kawasan sekitarnya, terutama rumah dengan harga lebih terjangkau.
Insentif fiskal serta kebijakan hunian vertikal juga memperkuat permintaan terhadap pilihan tempat tinggal yang lebih efisien. Namun, pembeli kini mempertimbangkan lebih banyak unsur, mulai dari ukuran rumah hingga skema pembiayaan.
Inventori Nasional Masih Bertambah
Di tengah pencarian yang tetap tumbuh, persediaan rumah tapak nasional juga meningkat. Pinhome Indonesia Residential Property Market Report Semester 1 2026 mencatat inventori nasional tumbuh 5 persen.
Pertumbuhan itu tidak merata karena setiap wilayah menghadapi kondisi pembangunan yang berbeda. Infrastruktur, kebijakan pemerintah daerah, dan biaya konstruksi menjadi faktor yang memengaruhi jumlah rumah yang tersedia di pasar.
| Wilayah | Perubahan Inventori | Faktor yang Memengaruhi |
|---|---|---|
| Nasional | Tumbuh 5% | Pasokan rumah tapak tetap bertambah |
| Samarinda dan Balikpapan | Melambat dari 9,2% menjadi 4,5% | Penundaan belanja infrastruktur IKN |
| Kabupaten Badung, Bali Selatan | Turun 1,6% | Rencana moratorium pembangunan |
Gelombang PHK dan kenaikan biaya hidup diperkirakan dapat membuat lebih banyak pemilik menjual rumahnya. Situasi tersebut berpotensi menambah listing baru, meski tidak seluruh wilayah mengalami arah pertumbuhan pasokan yang sama.
Pengembang juga menghadapi kenaikan biaya konstruksi. Banyak di antaranya memilih membangun rumah dengan ukuran lebih kecil agar harga jual tetap lebih mudah dijangkau calon pembeli.
Pembiayaan Menjadi Penentu
Kenaikan BI-Rate hingga 5,75 persen membuat perbandingan skema KPR menjadi semakin penting. Pembeli tidak lagi hanya memburu rumah yang sesuai anggaran awal, tetapi juga memperhitungkan pembiayaan yang sanggup dijalani.
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengatakan Take Over KPR mendominasi sekitar 60 persen pasar KPR. Menurut Dara, pasar tidak melemah, melainkan sedang beradaptasi terhadap kondisi yang berubah.
KPR komersial untuk rumah seharga Rp300 juta hingga Rp1 miliar menyumbang sekitar 49 persen permintaan. Segmen rumah di bawah Rp300 juta masih mengambil porsi sekitar 21 persen dari permintaan KPR komersial.
BTN menjalankan strategi Beyond Mortgage untuk merespons kebutuhan tersebut. Institutional Relationship Department Head PT Bank Tabungan Negara Tbk, Yulia Fitri Nurman, menyebut KPR diposisikan sebagai awal ekosistem layanan keuangan yang mendukung kebutuhan nasabah secara berkelanjutan.
Kenyamanan Rumah Kian Diperhitungkan
Selektivitas pembeli juga berkaitan dengan perubahan fungsi rumah dalam kehidupan sehari-hari. Hunian perkotaan semakin dipandang sebagai ruang untuk beristirahat, menjaga kebersihan, dan merawat kesehatan.
Permintaan layanan Infal di aplikasi Pinhome meningkat 117 persen saat Ramadan, dengan retensi pelanggan 21 persen pada kuartal II 2026. Layanan Deep Cleaning tumbuh hingga dua kali lipat akibat cuaca ekstrem pada Januari.
Body Care meningkat 29 persen secara kuartalan, menandakan rumah semakin digunakan sebagai ruang perawatan diri. Pinhome juga meluncurkan Interior & Renovasi untuk mendukung masyarakat yang ingin meningkatkan kualitas ruang tinggal.
Technogym Indonesia melihat home gym makin sering disiapkan sejak awal melalui perangkat seperti Technogym Bench dan Unica. Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa rumah yang dicari saat ini bukan hanya tersedia dan terjangkau, tetapi juga mendukung kualitas hidup penghuninya.






