Persebaya Surabaya menciptakan banyak peluang, mencetak dua gol, dan dua kali memimpin saat melawan PSIS Semarang. Namun, produktivitas tersebut belum cukup menghasilkan kemenangan karena tim kembali kebobolan pada dua fase penting pertandingan.
Skor 2-2 dalam 99th Anniversary Game menjadi evaluasi ganda bagi Persebaya menjelang Super League 2026/2027. Tim perlu meningkatkan akurasi di depan gawang sekaligus memperkuat disiplin untuk menjaga keunggulan.
Bernardo Tavares menilai peluang yang dibangun timnya seharusnya dapat dikonversi menjadi gol lebih banyak. Margin skor yang lebih lebar akan mengurangi tekanan ketika Persebaya harus menghadapi respons lawan.
“Kami seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol. Peluang yang kami ciptakan cukup banyak,” kata Tavares. Ia menyebut akurasi dan pengambilan keputusan di sepertiga akhir lapangan sebagai bagian yang harus diperbaiki.
Serangan Menjanjikan, Skor Tidak Aman
| Pencetak Gol | Fase Laga | Catatan |
|---|---|---|
| Alex Martins | Babak pertama | Mencetak gol perdana bersama Persebaya |
| Yann Mabella | Babak kedua | Mengembalikan keunggulan Persebaya |
Alex Martins membuka keunggulan Persebaya pada babak pertama melalui gol pertamanya bersama klub. PSIS kemudian menyamakan skor, tetapi Yann Mabella membawa tuan rumah kembali memimpin pada babak kedua.
Keunggulan yang diperoleh dari dua gol tersebut tidak bertahan sampai peluit akhir. PSIS memanfaatkan ruang di pertahanan tuan rumah untuk mencetak gol balasan kedua dan mengakhiri laga dengan kedudukan imbang.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa dominasi permainan belum otomatis menjamin kontrol hasil. Peluang yang tidak berbuah gol tambahan membuat Persebaya gagal membangun jarak aman dari lawan.
Pertahanan Menjadi Sorotan Utama
Tavares menyebut dua gol PSIS seharusnya dapat dihindari. Pelatih berusia 46 tahun itu melihat adanya kesalahan yang terjadi secara personal maupun dalam kerja sama tim.
“Ada banyak hal positif yang saya lihat. Kami mampu menciptakan banyak peluang,” ujar Tavares. “Namun, ada juga hal yang harus segera diperbaiki, terutama dua gol yang kami kebobolan akibat kesalahan individu dan kolektif yang seharusnya bisa dihindari.”
Menurutnya, Persebaya mampu memegang kendali ketika dapat menjaga tempo dan menekan lawan secara konsisten. Masalah muncul saat konsentrasi menurun sehingga PSIS memperoleh waktu dan ruang untuk mengembangkan serangan.
Disiplin bertahan juga tidak hanya dibebankan kepada pemain di garis belakang. Tavares menekankan perlunya kontribusi lini depan agar proses menutup celah dimulai sebelum lawan memasuki area pertahanan.
Ujian di Gelora Bung Tomo
Pertandingan berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo pada Minggu, 19 Juli 2026, di hadapan ribuan Bonek dan Bonita. Bagi Persebaya, laga itu bukan sekadar perayaan 99 tahun, melainkan ruang untuk memeriksa respons skuad dalam atmosfer pertandingan.
Tavares sengaja memberikan kesempatan kepada banyak pemain dalam duel melawan PSIS. Ia ingin mengetahui kemampuan pemain menghadapi tekanan pertandingan, yang berbeda dengan kondisi saat sesi latihan.
“Pada pertandingan ini kami sengaja memberikan kesempatan kepada banyak pemain,” ungkap Tavares. Menurut Liputan6.com, ia menilai penampilan di hadapan pendukung dalam jumlah besar menjadi salah satu parameter penting untuk mengukur kesiapan pemain.
Bekal Evaluasi Menuju Musim Baru
Hasil imbang tersebut tidak memberikan kemenangan di kandang, tetapi memberi gambaran yang spesifik mengenai kebutuhan Persebaya. Koordinasi antar lini harus lebih rapat agar keunggulan yang telah dibangun tidak kembali terlepas.
Di sisi lain, ketajaman serangan perlu ditingkatkan untuk mengubah banyak peluang menjadi gol. Dua aspek itu akan menentukan seberapa siap Persebaya memasuki musim 2026/2027.






