Lintasan Pacu Kude di Aceh Tengah bukan hanya tempat kuda berpacu. Arena tersebut juga menjadi ruang silaturahmi masyarakat Gayo dari berbagai kampung, yang dikenal dengan sebutan belangi neger.
Daya tarik utamanya terletak pada joki berusia 12 hingga 16 tahun yang menunggang tanpa pelana dan tanpa alas kaki. Mereka harus menjaga keseimbangan di atas kuda yang bergerak cepat, menjadikan ketangkasan sebagai penentu penting dalam perlombaan.
Pacuan Rakyat yang Menyatukan Wilayah
Warga dari beragam kalangan usia datang menyaksikan Pacu Kude sebagai hiburan rakyat. Pesertanya juga dapat berasal dari daerah sekitar Aceh Tengah, seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.
Kegiatan ini memadukan olahraga, adat, dan pertemuan sosial. Bagi masyarakat Gayo, pacuan menjadi sarana menyampaikan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus menjaga hubungan antarkampung.
Ketangkasan joki di atas kuda dipandang mencerminkan keberanian dan sportivitas. Nilai tersebut kemudian membuat Pacu Kude dikaitkan dengan semangat perjuangan dalam peringatan kemerdekaan Indonesia.
Digelar pada Februari dan Agustus
Pacu Kude kini telah menjadi agenda tahunan di Takengon. Pelaksanaannya berkaitan dengan Hari Jadi Kota Takengon pada Februari dan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus.
| Momentum Tahunan | Waktu | Lokasi atau Konteks |
|---|---|---|
| Hari Jadi Kota Takengon | Februari | Perayaan tahunan kota |
| Hari Kemerdekaan RI | Agustus | Rangkaian 17 Agustusan |
Perlombaan dapat berlangsung hingga sepekan di lapangan terbuka. Lapangan Muan Alun di Takengon menjadi salah satu lokasi yang digunakan untuk kegiatan tersebut.
Jalur pacu dibuat melingkar dengan pembatas berupa pagar rotan. Susunan arena yang sederhana ini tetap mempertahankan karakter khas pacuan tradisional Gayo.
Kuda Gayo dan Perkembangan Pacuan
Pada masa awal, Pacu Kude menggunakan kuda asli Gayo yang relatif kecil. Kuda tersebut dikenal lincah serta mempunyai stamina kuat untuk melintasi arena pacuan.
Seiring waktu, sebagian kuda lokal disilangkan dengan kuda Australia atau keturunan lain. Langkah itu ditujukan untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatan kuda yang digunakan dalam perlombaan.
Meski mengalami perkembangan pada jenis kuda dan penyelenggaraan, unsur dasar Pacu Kude tetap dipertahankan. Joki muda tanpa pelana masih menjadi identitas yang membedakan tradisi ini.
Jejak Pesta Panen Masyarakat Gayo
Sebelum menjadi agenda perayaan kota dan kemerdekaan, Pacu Kude merupakan pesta setelah musim panen padi. Masyarakat petani Gayo menggelarnya setelah luah berume sebagai hiburan usai bekerja di sawah.
Pada periode awal, pacuan berlangsung di area persawahan pada pagi atau sore hari setelah salat ashar. Agustus menjadi waktu yang erat dengan kegiatan tersebut karena bertepatan dengan berakhirnya masa panen.
Menurut catatan yang dirangkum beautynesia.id, pacuan kuda tradisional Gayo pertama kali diadakan pada 1850 di sisi timur Danau Laut Tawar, Kecamatan Bintang. Lintasan yang digunakan saat itu memiliki panjang sekitar 1,5 kilometer.
Pemerintah kolonial Belanda mulai mengatur perlombaan itu pada 1912 dan memusatkannya di Takengon. Sejak dekade 1930-an, pacuan kuda tradisional Gayo mulai berlangsung sebagai perlombaan tahunan.
Kini Pacu Kude juga menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara. Tradisi ini mempertahankan posisinya sebagai perpaduan olahraga rakyat dan budaya lokal di Aceh Tengah.






