Opsi agresi militer skala besar terhadap Iran belum dicabut oleh Amerika Serikat, meski Presiden Donald Trump melihat sinyal keseriusan baru dari Teheran dalam perundingan. Sikap tersebut memperlihatkan Washington masih menggabungkan tekanan kekuatan dengan peluang diplomasi.
Trump menyatakan pemerintahannya belum mengambil keputusan untuk memulai serangan besar-besaran. Namun, ia juga mengatakan AS siap menaikkan eskalasi jika situasi mengharuskannya.
Diplomasi dan Kekuatan Berjalan Bersamaan
Trump menggambarkan jalur diplomasi sebagai pilihan yang lebih cerdas dalam menghadapi Iran. Di saat yang sama, ia menyebut terdapat pilihan lain yang kemungkinan lebih mudah dilakukan tanpa menjelaskan bentuk langkah tersebut.
Posisi itu menunjukkan pembicaraan dengan Iran belum menghapus risiko konfrontasi lebih luas. Washington masih mempertahankan kemampuan militer sebagai alat tekanan selama negosiasi belum memberikan kepastian.
“Kami bisa meningkatkan eskalasi ke tingkat yang jauh lebih tinggi jika kami mau, kami siap melakukannya. Kami sudah siap tempur dan siap bertindak,” kata Trump mengenai kesiapan militer AS.
Penilaian Baru terhadap Sikap Teheran
Di Gedung Putih, Washington D.C., Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung. Menurutnya, Teheran memperlihatkan keseriusan yang lebih tinggi daripada yang pernah terlihat sebelumnya.
“Menurut saya, mereka jauh lebih serius daripada yang pernah kita lihat sebelumnya. Tapi itu tidak berarti kami akan sampai ke sana. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi,” ujar Trump, seperti dikutip VIVA pada Minggu, 26 Juli 2026.
Trump tidak menjelaskan perkembangan rinci dalam pembicaraan tersebut. Karena itu, belum ada kepastian apakah komunikasi yang berjalan akan menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan konfrontasi kedua negara.
| Unsur Kebijakan | Keterangan |
|---|---|
| Jalur diplomasi | Pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan dinilai lebih serius |
| Jalur militer | AS menyatakan siap meningkatkan eskalasi bila diperlukan |
| Batas utama Washington | Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir |
| Tim yang disiapkan | Steve Witkoff, Jared Kushner, J.D. Vance, dan Marco Rubio |
Larangan Senjata Nuklir
Trump menempatkan isu senjata nuklir Iran sebagai batas utama yang tidak dapat dinegosiasikan. Ia mengatakan langkah pemerintahannya tidak akan diambil dengan terburu-buru, tetapi harus dilakukan secara tepat.
“Ini masalah besar. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Trump. Pernyataan itu menegaskan bahwa perundingan tetap dibayangi tuntutan keamanan yang dianggap mendasar oleh Washington.
Pembahasan mengenai Iran akan melibatkan sejumlah pejabat dan penasihat utama pemerintahan AS. Trump menyebut Utusan Khusus Steve Witkoff, Jared Kushner, Wakil Presiden J.D. Vance, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan ikut terlibat.
Latar Belakang Saling Serang
Ketegangan meningkat setelah AS melancarkan serangkaian serangan di berbagai wilayah Iran sejak pekan lalu. Washington menyatakan serangan itu dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Iran membalas dengan menyerang fasilitas dan pangkalan yang dipakai militer AS di sejumlah negara kawasan. Pertukaran serangan itu masih berlangsung meskipun kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang telah ditandatangani dengan mediasi Pakistan pada Juni 2026.
Tekanan Menjelang Pemilu Sela
Konflik Iran juga membawa risiko politik bagi Partai Republik menjelang pemilu sela November. Sejumlah ahli strategi partai itu menilai perang yang tidak populer dapat memengaruhi peluang elektoral mereka.
Trump tidak menjadi calon, tetapi perubahan kendali di satu atau dua majelis Kongres dapat menyulitkan agenda pemerintahannya dalam dua tahun terakhir masa jabatan. Perjalanan negosiasi dan perkembangan konflik di kawasan akan menentukan seberapa jauh opsi militer tetap dipertahankan.






