Littlefingers memulai proses kreatifnya dari workshop musik mingguan di kamar kos. Kini, trio jazz elektronik asal Jakarta tersebut telah membawa karya instrumental mereka ke sejumlah festival dan panggung di Asia.
Perjalanan itu tidak hanya memperluas lokasi penampilan, tetapi juga mengubah sebaran pendengar digital mereka. David Halim mengatakan jumlah pendengar dari Indonesia dan luar negeri yang dahulu terpaut jauh kini berada di kisaran 50-50.
Keinginan Sederhana dari Ruang Kecil
Chika Olivia mengenang masa awal ketika ia, Tjdika, dan David Halim bertemu seminggu sekali untuk mengembangkan musik. Tujuan mereka saat itu adalah mengetahui respons publik terhadap karya yang dibuat secara mandiri.
Chika mengisi keys, Tjdika memainkan bass, dan David berada di drums. Dari pertemuan kecil tersebut, mereka membangun karakter musik instrumental yang menggabungkan unsur jazz dan elektronik.
Respons yang baik menjadi alasan Littlefingers terus memperkenalkan karya kepada pendengar yang lebih luas. Langkah itu kemudian mengantar mereka ke panggung luar negeri melalui jaringan festival musik.
Singapura Membuka Arah Perjalanan
Penampilan di AXEAN Festival, Singapura, pada 2022 menjadi salah satu momentum utama bagi Littlefingers. David menyebut kesempatan tampil di berbagai negara berkembang sebagai rangkaian yang saling terhubung.
Dari Singapura, grup ini tampil di Kuala Lumpur, Malaysia, lalu memperoleh kesempatan ke Monsoon Festival di Hanoi, Vietnam. Rangkaian tersebut kemudian berlanjut dengan panggung di Korea Selatan dan Taiwan.
| Lokasi | Agenda | Posisi dalam perjalanan |
|---|---|---|
| Singapura | AXEAN Festival | Tampil pada 2022 dan dijadwalkan kembali pada 2026 |
| Kuala Lumpur | Penampilan lanjutan | Berlangsung setelah Singapura |
| Hanoi | Monsoon Festival | Terbuka dari jejaring penampilan sebelumnya |
| Korea Selatan dan Taiwan | Panggung berikutnya | Didapat dalam rangkaian kesempatan Asia |
Perjalanan internasional itu tidak berangkat dari rencana besar untuk memburu pasar luar negeri. David menyatakan tujuan awal mereka tetap berkaitan dengan pengenalan jazz dan musik instrumental yang masih terasa asing bagi sebagian pendengar di Indonesia.
Perubahan Terlihat pada Pendengar Digital
Menurut David, perubahan jumlah pendengar mulai terasa sesudah Littlefingers bergerak dari album pertama ke EP pertama dan kedua. Dalam perbincangan dengan Medcom.id, ia mengatakan ketimpangan angka pendengar Indonesia dan luar negeri sebelumnya sangat besar.
Setelah dua EP tersebut, pendengar dari kedua wilayah disebut mulai berimbang. Perkembangan panggung lintas negara menjadi salah satu pengalaman yang berpengaruh bagi pertumbuhan grup tersebut.
Penampilan Bandung dan Karya yang Dibawakan
Littlefingers tampil pada hari pertama Gaia Music Festival 2026 di Amphitheatre, The Gaia Hotel, Bandung, Jumat malam, 14 Agustus 2026. Mereka memainkan 10 lagu selama kurang lebih 60 menit di hadapan penonton yang memenuhi area pertunjukan.
“Under The Wire” dan “Minstrel” dari EP SeLF Vol.1 yang dirilis pada 2022 menjadi pembuka set. Lagu “Four Flights to Fibs”, “GYMNASIUM”, dan “Haselig” menjadi bagian akhir penampilan mereka.
Trio ini juga meraih AMI Awards 2025 untuk kategori Artis Jazz Kontemporer/Alternatif Terbaik. Sambutan di Bandung menambah catatan perjalanan Littlefingers dalam memperkenalkan karya instrumental mereka kepada audiens yang lebih luas.
Harapan bagi Ekosistem Musik
Chika berharap lebih banyak musisi Indonesia dengan warna unik memperoleh ruang untuk berkarya dan berkembang. Menurutnya, ekosistem musik akan lebih hidup jika musisi baru maupun musisi yang telah lama berkarya sama-sama mendapat kesempatan.
David melihat audiens musik instrumental Indonesia mulai lebih terbuka dan menyebut Ali Radio sebagai salah satu pembuka jalan. Ia berharap tersedia infrastruktur tur yang lebih memadai, sedangkan Tjdika menekankan pentingnya wadah yang mendukung musisi dalam mengenalkan musik mereka kepada publik.






