Jangan Langsung Simpulkan Keracunan saat Mulut Berbusa, Ini Risiko Salah Menilai

Menyimpulkan keracunan hanya dari mulut atau hidung yang berbusa berisiko mengabaikan kemungkinan kondisi medis lain. Prof. Zullies Ikawati dari Universitas Gadjah Mada menegaskan bahwa gejala tersebut tidak bersifat khas untuk keracunan.

Penilaian penyebab harus didasarkan pada pemeriksaan medis yang memadai. Gejala luar yang sama dapat berkaitan dengan kejang, gangguan jantung atau paru-paru, maupun paparan zat tertentu.

Satu gejala tidak cukup untuk menentukan penyebab

Mulut berbusa dapat terjadi karena produksi air liur meningkat atau karena air liur bercampur dengan udara. Kedua proses itu dapat muncul dalam keadaan yang berbeda-beda.

Karena itu, gejala tersebut tidak dapat menjadi patokan tunggal untuk menentukan apakah seseorang terpapar racun. Keracunan akibat obat tertentu, alkohol, atau bahan kimia lain pun belum tentu menimbulkan busa di mulut.

“Mulut berbusa bukan merupakan tanda khas atau bukti pasti seseorang mengalami keracunan,” ujar Prof. Zullies kepada Suara.com. Ia menekankan perlunya melihat konteks dan hasil pemeriksaan sebelum menetapkan penyebab suatu kasus.

Gangguan pada paru-paru dan jantung

Cairan berbusa dari mulut atau hidung juga dapat muncul pada gangguan jantung maupun paru-paru. Prof. Zullies menyebut edema paru dan henti jantung sebagai contoh yang perlu menjadi pertimbangan.

Edema paru atau henti jantung dapat menghasilkan cairan berbusa tanpa harus berkaitan dengan keracunan. Hal ini menunjukkan bahwa tampilan yang mirip tidak selalu memiliki mekanisme maupun latar belakang yang sama.

Kemungkinan penyebabHubungan dengan busaCatatan
Kejang atau epilepsiAir liur dapat bercampur udaraTerjadi saat kontraksi otot berlangsung terus-menerus.
Edema paru atau henti jantungCairan berbusa dapat keluarDapat tampak melalui mulut atau hidung.
Keracunan tertentuAir liur dapat meningkatTidak berlaku pada seluruh jenis racun atau bahan kimia.

Prof. Zullies mengatakan, “Juga gangguan jantung atau paru, misalnya ada edema paru atau henti jantung, yang juga bisa menghasilkan cairan berbusa di mulut atau hidung.” Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya membedakan sejumlah kemungkinan penyebab sebelum menarik kesimpulan.

Kejang dapat memicu air liur berbusa

Kejang umum atau ayan merupakan salah satu kondisi yang dapat membuat mulut terlihat berbusa. Ketika kontraksi otot terjadi secara terus-menerus, air liur dapat bercampur udara lalu membentuk tampilan menyerupai busa.

Penampakan tersebut berasal dari proses fisik selama kejang, bukan semata-mata dari zat yang masuk ke tubuh. Dengan begitu, keberadaan busa perlu dipahami sebagai gejala yang tidak spesifik.

Organofosfat hanya satu contoh

Dari sudut pandang farmakologi, beberapa racun memang dapat memicu peningkatan produksi air liur. Pestisida golongan organofosfat disebut Prof. Zullies sebagai salah satu contoh zat yang dapat berkaitan dengan keadaan itu.

“Memang keracunan tertentu juga bisa menyebabkan produksi air liur meningkat sehingga seperti berbusa,” ujarnya. Pernyataan tersebut tidak berarti semua peristiwa mulut berbusa disebabkan oleh organofosfat atau racun lainnya.

Penjelasan Prof. Zullies mencuat terkait kondisi Sutrimo, penjaga rumah sekaligus kepala rumah tangga eks Jampidsus Febrie Adriansyah. Namun, ia menyatakan tidak memeriksa langsung kondisi tersebut dan tidak melihat hasil pemeriksaan medis maupun autopsi.

Oleh karena itu, keterangannya merupakan gambaran umum berdasarkan ilmu farmakologi. Penetapan penyebab pada kasus tertentu tetap memerlukan dasar pemeriksaan medis yang lengkap.

Baca Juga