Harapan agar petani memakai motor listrik nasional menuntut lebih dari sekadar kesiapan produksi. Harga awal kendaraan dan akses pembiayaan menjadi dua persoalan yang masih dapat membatasi penerimaan Molinas di kelompok pengguna tersebut.
Motor listrik perlu sesuai dengan karakter pekerjaan dan kebutuhan pengguna di sektor pertanian. Tanpa produk yang relevan serta skema kepemilikan yang terjangkau, perluasan pasar tidak akan berjalan otomatis.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan harapan penggunaan motor listrik oleh petani saat menghadiri Panen Raya Bersama TNI. Pernyataan itu disampaikan di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026.
Peluncuran di Cikarang
Beberapa pekan kemudian, Prabowo meluncurkan Molinas dan ekosistem pendukungnya di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis, 13 Agustus 2026. Acara itu berlangsung di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group, produsen motor listrik lokal dengan merek ALVA.
Pemerintah tidak menempatkan Molinas hanya sebagai peluncuran kendaraan baru. Program ini menjadi bagian dari agenda membangun ekosistem industri kendaraan listrik nasional dengan melibatkan kemampuan serta sumber daya dalam negeri.
Penguatan industri, teknologi, ketahanan energi, dan peningkatan nilai tambah dalam negeri menjadi arah yang dibawa program tersebut. Meski demikian, penerimaan pasar tetap bergantung pada kesesuaian kendaraan dengan kebutuhan dan kemampuan beli masyarakat.
Harga Awal Masih Menjadi Hambatan
Pengamat energi baru terbarukan dan pegiat kendaraan listrik Hendro Sutono menilai pembiayaan menjadi tembok besar bagi calon pengguna. Konsumen masih menunggu kebijakan yang dapat menekan biaya kepemilikan motor listrik.
Ia menyoroti tiga instrumen yang dinilai penting, yakni insentif fiskal berkelanjutan, kredit bunga rendah dengan uang muka nol persen, serta program tukar tambah motor bensin. Ketiganya diharapkan dapat mendorong peralihan pengguna dari kendaraan konvensional.
| Instrumen pembiayaan | Harapan konsumen | Situasi yang dihadapi |
|---|---|---|
| Insentif fiskal | Biaya kepemilikan lebih ringan | Belum tampak secara konkret |
| Kredit murah dan uang muka nol persen | Pembelian lebih mudah dijangkau | Syarat ketat, bunga belum kompetitif |
| Tukar tambah motor bensin | Peralihan kendaraan lebih praktis | Masih ditunggu di lapangan |
Hendro menilai kebutuhan itu juga kerap dikaitkan dengan kemungkinan peran lembaga pembiayaan negara seperti Danantara. Namun, skema yang dibutuhkan belum sepenuhnya terlihat di diler maupun perbankan.
Kepada Kompas.com, Hendro menyebut instrumen tersebut masih menggantung dan belum terlaksana secara konkret. Hambatan teknis serta ekonomis disebut masih besar pada tahap eksekusi.
Nilai Baterai Memengaruhi Penyaluran Kredit
Kehati-hatian lembaga pembiayaan berkaitan dengan ketidakpastian pasar sekunder dan nilai sisa motor listrik. Baterai yang menyumbang sekitar 40 hingga 50 persen dari total harga kendaraan menjadi unsur penting dalam perhitungan tersebut.
Kapasitas baterai menurun seiring pemakaian, sehingga nilai jual kembali kendaraan tidak mudah dipastikan. Situasi ini membuat lembaga keuangan menilai kredit motor listrik berisiko lebih tinggi dibandingkan kredit motor bensin konvensional.
Hendro menilai pemerintah perlu menyediakan jaring pengaman atau produsen memberikan kepastian pembelian kembali. Tanpa kepastian itu, calon pembeli berpotensi tetap menghadapi bunga komersial dan persyaratan kredit yang ketat.
Bagi sasaran seperti petani, kemudahan memperoleh kendaraan menjadi sama pentingnya dengan pengembangan industri nasional. Molinas akan lebih mudah diterima apabila pembiayaan, nilai jual kembali, dan kesesuaian produk dapat dijawab secara bersamaan.






