Mode EV pada mobil hybrid dapat tidak berfungsi ketika mesin bensin gagal menyala akibat bahan bakar habis. Sistem kendaraan dapat menonaktifkan mode hybrid, sehingga mobil berisiko tidak dapat dijalankan.
Risiko ini penting diperhatikan karena mobil hybrid tetap bergantung pada mesin pembakaran internal. Baterai yang tersedia tidak otomatis membuat kendaraan sanggup melanjutkan perjalanan saat tangki sudah kosong.
Tenaga Tambahan Memicu Kerja Mesin Bensin
Dalam pemakaian normal, Mode EV memungkinkan mobil bergerak dengan tenaga baterai pada kondisi tertentu. Sistem akan mengatur penggunaan motor listrik dan mesin bensin sesuai kebutuhan kendaraan.
Mesin bensin dapat menyala ketika pengemudi berakselerasi dan kendaraan membutuhkan tenaga lebih besar. Mesin juga dapat bekerja saat daya baterai mulai menurun.
Artinya, tenaga listrik pada hybrid tidak bekerja secara terpisah dari mesin pembakaran internal. Perpindahan kedua sumber tenaga menjadi bagian dasar dari pengoperasian kendaraan tersebut.
Karena itu, mode EV tidak dapat dianggap sebagai cara untuk terus berkendara setelah bensin benar-benar habis. Sistem tetap membutuhkan kesiapan mesin bensin untuk memenuhi kebutuhan tenaga dan pengisian daya.
Mesin Bensin Ikut Menjaga Daya Baterai
Pada Mobil Hybrid, mesin pembakaran internal tidak hanya berfungsi memutar roda. Mesin tersebut juga berperan sebagai generator untuk membantu mengisi baterai kendaraan.
Ketika Bensin Mobil habis, mesin tidak mampu menjalankan fungsi pengisian tersebut. Dampaknya tidak hanya terkait tenaga penggerak, tetapi juga keberlangsungan daya pada sistem hybrid.
Muchlis, pemilik bengkel spesialis Toyota-Mitsubishi Garasi Auto Service Sukoharjo, menjelaskan sistem dapat merespons saat mesin bakar tidak bisa menyala karena kehabisan bahan bakar. Respons itu dapat membuat mobil tidak bisa dioperasikan.
“Misalnya mesin bakar tidak bisa menyala karena kehabisan bensin, maka sistem akan merespons dengan menonaktifkan mode hybrid. Dampaknya, mobil tidak bisa dioperasikan atau mogok,” ujar Muchlis, seperti dikutip Kompas.com.
Menurut Muchlis, peran mesin bakar pada sistem hybrid tetap krusial karena menjadi penggerak sekaligus generator pengisi baterai. Tanpa mesin yang beroperasi, sistem hybrid tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Hybrid Konvensional Bukan Mobil Listrik Murni
Kapasitas baterai pada mobil hybrid umumnya lebih kecil dibandingkan battery electric vehicle atau BEV. Baterai hybrid konvensional juga berbeda dari baterai pada plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV.
Perbedaan itu membuat tenaga listrik pada hybrid konvensional digunakan untuk kebutuhan dan durasi tertentu. Kehadiran baterai tidak berarti kendaraan dirancang untuk melaju jauh hanya dengan tenaga listrik.
Pengisian bahan bakar akan memungkinkan mesin bensin menyala kembali dan sistem hybrid kembali berfungsi normal. Pemilik mobil hybrid sebaiknya memantau indikator bahan bakar agar tangki tidak dibiarkan kosong.






