Minyak jelantah tidak lagi berhenti sebagai limbah rumah tangga setelah digunakan memasak. PT Pertamina Patra Niaga memasukkannya ke rantai pengembangan bahan bakar pesawat berkelanjutan yang telah menjangkau tahap penyaluran di dua bandara besar.
Bahan bakar tersebut diproduksi di dalam negeri dan telah memperoleh sertifikasi CORSIA. Sustainable Aviation Fuel atau SAF ini berpotensi mengurangi emisi hingga 84 persen dibandingkan bahan bakar aviasi konvensional.
Dari Kilang hingga Dua Bandara
Minyak jelantah yang telah terkumpul diproses melalui metode co-processing di Green Refinery RU IV Cilacap. Tahap pengolahan ini mengubah bahan baku limbah menjadi produk yang dapat masuk ke ekosistem penerbangan.
Produk SAF dari Cilacap telah disalurkan melalui Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai. Kehadiran titik penyaluran tersebut memperlihatkan pengembangan bahan bakar sudah mencakup proses setelah produksi.
| Tahap | Keterangan |
|---|---|
| Pengumpulan bahan baku | Program UCOllect |
| Pengolahan | Co-processing di Green Refinery RU IV Cilacap |
| Sertifikasi produk | CORSIA |
| Penyaluran | Bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai |
CORSIA merupakan standar yang berkaitan dengan pengurangan dan pengimbangan emisi karbon penerbangan internasional. Pemenuhan standar ini menjadi bagian penting dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Rantai pasok yang dibangun Pertamina tidak hanya bertumpu pada fasilitas kilang. Sistem tersebut menghubungkan sumber bahan baku dari masyarakat dengan distribusi serta pengisian bahan bakar ke pesawat.
Peran Rumah Tangga dalam Pasokan Bahan Baku
Pasokan minyak jelantah berasal dari program UCOllect yang menampung minyak bekas pakai dari masyarakat. Hingga kini, terdapat 47 titik pengumpulan yang telah beroperasi.
Jaringan itu menjangkau lebih dari 5.200 rumah tangga dan telah menghimpun lebih dari 116 ribu liter minyak jelantah. Data tersebut memperlihatkan skala partisipasi masyarakat dalam tahap awal pengembangan SAF Pertamina.
Pemanfaatan bahan baku ini memberi fungsi baru bagi limbah rumah tangga dalam sektor energi. Minyak jelantah yang dikumpulkan tidak langsung digunakan sebagai bahan bakar, melainkan melalui proses pengolahan di Green Refinery RU IV Cilacap.
Ekosistem tersebut dirancang dari hulu hingga hilir, mulai dari pengumpulan bahan baku sampai pengisian ke pesawat. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun penerbangan rendah emisi di Indonesia.
Pengembangan di Tingkat ASEAN
Pertamina memperkenalkan ekosistem SAF terintegrasi dalam ASEAN Sustainable Aviation Fuel Workshop 2026 di Denpasar, Bali. Kegiatan itu diselenggarakan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bersama European Union Aviation Safety Agency atau EASA.
Vice President Aviation Fuel Business PT Pertamina Patra Niaga Yosep Iswadi menyebut kolaborasi lintas sektor sebagai unsur penting dalam pengembangan SAF. “Pertamina telah membangun ekosistem SAF terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui kolaborasi lintas sektor,” ujar Yosep.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman mengapresiasi komitmen Pertamina dalam membangun ekosistem tersebut. Ia menilai kerja sama antarpemangku kepentingan dapat mempercepat transisi penerbangan rendah emisi sekaligus memperkuat industri aviasi nasional.
Kementerian Perhubungan terus mendorong implementasi SAF melalui regulasi dan kerja sama lintas sektor. Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung target Net Zero Emission 2060 atau lebih cepat serta memperkuat posisi Indonesia di kawasan ASEAN.
Keterlibatan pemerintah, operator bandara, industri energi, dan masyarakat menjadi unsur yang saling terhubung dalam skema ini. Dengan bahan baku dan produksi di dalam negeri, minyak jelantah kini mengambil peran dalam rantai energi penerbangan yang lebih berkelanjutan.






