Bukan Kekurangan Talenta, Industri Kreatif Indonesia Terhambat Jalur Pasarnya

Industri kreatif Indonesia dinilai tidak kekurangan talenta yang mampu bersaing di luar negeri. Hambatan yang lebih besar justru berada pada jalur pasar, distribusi, dan infrastruktur yang belum cukup kuat menopang peredaran karya secara berkelanjutan.

Pengamat budaya populer Hikmat Darmawan mengatakan keberhasilan global tidak dapat hanya diukur dari munculnya sejumlah nama di panggung internasional. Industri akan lebih kokoh apabila capaian itu dapat membuka ruang ekonomi bagi semakin banyak seniman dan produser budaya.

Kondisi tersebut penting karena karya berkualitas tidak selalu otomatis bertemu dengan audiensnya. Tanpa strategi sirkulasi yang memadai, potensi besar dapat berhenti sebagai pencapaian terbatas pada individu tertentu.

Pasar Dalam Negeri Masih Menyimpan Pekerjaan Rumah

Indonesia memiliki populasi lebih dari 200 juta orang yang dapat menjadi basis pasar besar bagi karya lokal. Hikmat menilai potensi tersebut perlu digarap lebih serius agar arus pendapatan industri kreatif tidak hanya bergantung pada pengakuan dari luar negeri.

“Sudah digarap optimal belum pasar di dalam negeri, pasar domestik?” kata Hikmat kepada CNN Indonesia. Ia menegaskan bahwa memakmurkan sebanyak mungkin seniman melalui karya mereka masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia.

Penguatan pasar domestik tidak berarti ambisi internasional harus dikurangi. Pasar regional dan negara-negara global south juga dapat menjadi ruang pertumbuhan yang relevan bagi karya Indonesia, termasuk bagi perkembangan no na.

Pencapaian Internasional Tetap Bertambah

Agnez Mo dan Anggun dikenal melalui perjalanan karier di negara Barat. Sejumlah musisi Indonesia juga semakin aktif menggelar konser di luar negeri melalui jalur serta audiens yang berbeda-beda.

Rich Brian, Homicide, dan Voice of Baceprot menjadi contoh bagaimana talenta Indonesia bergerak lewat ekosistem musik yang tidak seragam. Keragaman itu memperlihatkan adanya komunitas pendengar untuk berbagai jenis karya, dari hip-hop hingga metal.

Peredaran karya Indonesia di luar negeri juga terlihat di dunia film. Beberapa judul memperoleh ruang dalam percakapan budaya internasional.

Judul FilmTahun
Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas2021
Before, Now & Then (Nana)2022
Jumbo2025

Perjalanan yang Bukan Baru Dimulai

Menurut Hikmat, apresiasi internasional terhadap artis Indonesia kerap dianggap sebagai fenomena baru. Padahal, sejarah budaya populer Indonesia telah memiliki jejak panjang dalam forum dunia.

Film Indonesia sudah mengikuti festival internasional sejak dekade 1960-an. Badai Selatan, yang dirilis pada 1961, tercatat mengikuti kompetisi Festival Film Internasional Berlin pada 1962.

“Jadi ini bagian dari perjalanan panjang kita untuk bersuara di dunia,” ujar Hikmat. Perubahan paling terasa saat ini, menurut dia, terletak pada metode produksi dan cara karya-karya tersebut bersirkulasi.

Akses sirkulasi yang lebih terbuka membantu karya lokal menjangkau komunitas baru di berbagai negara. Namun, Hikmat mengingatkan infrastruktur dan strategi yang rapuh dapat membuat industri kreatif terjebak dalam jebakan pendapatan menengah.

Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, tantangannya adalah membangun sistem yang mengubah capaian perorangan menjadi ekosistem yang lebih luas. Dengan distribusi dan pasar yang lebih kuat, lebih banyak seniman berpeluang memperoleh nilai ekonomi dari karya mereka.

Baca Juga