Meta menghapus lebih dari 159 juta iklan penipuan sepanjang tahun lalu, sebuah angka yang menunjukkan besarnya upaya pelaku kejahatan menjangkau pengguna melalui ruang iklan digital. Sebanyak 92% dari iklan bermasalah tersebut diturunkan secara proaktif sebelum ada laporan dari pengguna.
Penindakan dini menjadi penting karena iklan penipuan sering kali dibuat dengan tampilan yang meyakinkan. Dengan menghapusnya sebelum menyebar luas, platform berupaya mengurangi peluang pengguna terpapar modus penipuan.
Penipuan tidak berhenti pada iklan
Penanganan yang dilakukan Meta tidak hanya menyasar materi promosi yang tampil di beranda pengguna. Perusahaan juga menghapus hampir 11 juta akun yang diduga berkaitan dengan jaringan penipuan kriminal.
CNBC Indonesia melaporkan bahwa lebih dari satu juta akun, halaman, dan grup yang berhubungan dengan aktivitas penipuan turut ditindak. Langkah ini memperlihatkan bahwa jaringan penipuan dapat memanfaatkan berbagai jenis akun dan ruang interaksi dalam satu platform.
| Fokus Penanganan | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Iklan penipuan dihapus | Lebih dari 159 juta | Sepanjang tahun lalu |
| Iklan dihapus proaktif | 92% | Sebelum laporan pengguna |
| Akun terkait jaringan penipuan | Hampir 11 juta | Ditindak Meta |
| Akun, halaman, dan grup terkait penipuan | Lebih dari 1 juta | Turut dihapus |
| Individu sindikat penipuan | 63 orang | Ditangkap dan diamankan |
Skala penghapusan tersebut beriringan dengan penindakan terhadap orang-orang yang diduga terlibat dalam sindikat penipuan. Sebanyak 63 individu dari jaringan itu telah ditangkap dan diamankan.
Data ini menegaskan bahwa pengelolaan iklan tidak cukup hanya mengandalkan laporan pengguna. Penipu dapat menggunakan banyak akun, halaman, serta grup untuk memperluas jangkauan dan membangun kesan seolah-olah penawaran mereka dapat dipercaya.
Kerja sama dengan penegak hukum
Vice President Meta Asia Pasifik Ben Joe menyatakan perusahaan melanjutkan penanganan terhadap penipuan pada tahun ini. Meta juga memperluas kerja sama dengan sejumlah perusahaan teknologi, lembaga penegak hukum, dan instansi pemerintah.
“Tahun ini, kami melakukan upaya lebih jauh dengan bekerja sama bersama Microsoft, Coinbase, Departemen Kehakiman AS, kepolisian, serta berbagai instansi pemerintah dan pihak berwenang di banyak wilayah,” kata Joe. Kolaborasi itu diarahkan untuk menghadapi jaringan yang bergerak lintas layanan dan wilayah.
Selain penghapusan konten dan akun, Meta menaruh perhatian pada pihak yang memasang iklan. Perusahaan menargetkan 90% pendapatan iklan global berasal dari entitas bisnis yang terverifikasi pada akhir 2026.
Target tersebut berkaitan dengan peningkatan kualitas pengiklan yang menggunakan platform. Namun, sasaran itu bukan pernyataan bahwa seluruh iklan di platform telah bebas dari penipuan.
Pengguna tetap perlu menjaga akun
Meta juga menjalankan kampanye keamanan siber yang disebut telah menjangkau hingga 300 juta pengguna. Materi edukasinya menyoroti penggunaan passkey dan autentikasi dua faktor sebagai lapisan perlindungan tambahan.
Passkey dan autentikasi dua faktor dapat membantu mengurangi risiko pengambilalihan akun ketika kata sandi diketahui pihak lain. Langkah ini menjadi relevan karena akun pengguna dapat menjadi sasaran penyusupan untuk berbagai bentuk kejahatan digital.
Joe menggambarkan perlindungan akun sebagai tindakan pencegahan yang perlu dilakukan sebelum penyusupan terjadi. “Jadi pada dasarnya, kami ingin mengedukasi masyarakat untuk mengunci pintu depan digital mereka sebelum ada orang yang masuk,” ujarnya.
Penghapusan jutaan iklan dan akun memperlihatkan bahwa perlindungan pengguna memerlukan dua jalur sekaligus. Platform perlu menindak jaringan penipuan, sementara pengguna perlu memperkuat keamanan akses akun mereka.






