Lubang kecil pada tulang dan pelindung kulit titanosaurus di Spanyol memberi alasan kuat untuk meninjau ulang teori penguburan cepat. Jejak itu menunjukkan bangkai dinosaurus raksasa tersebut masih dapat dijangkau serangga pemakan bangkai sebelum tertutup sedimen.
Temuan ini berasal dari situs fosil Lo Hueco di Cuenca, yang menyimpan sisa titanosaurus dari periode Kapur Akhir berusia sekitar 70 juta tahun. Situs tersebut sebelumnya dipahami sebagai tempat bangkai dinosaurus cepat terkubur sehingga relatif terlindung dari gangguan di permukaan.
Bekas Aktivitas Setelah Kematian
Peneliti mengidentifikasi lubang-lubang itu sebagai struktur bioerosi, yakni bekas aktivitas organisme pada tulang setelah hewan mati. Bentuknya setengah bola atau menyerupai kantong dan dimasukkan ke dalam ichnogenus Cubiculum.
Jejak serupa telah ditemukan pada fosil dinosaurus lain, tetapi penelitian ini mencatat temuan penting pada osteoderm titanosaurus. Osteoderm merupakan pelindung kulit yang padat dan kaya mineral, sehingga lubang pada material ini memperluas bukti untuk melacak tahap penguraian bangkai purba.
| Bukti | Temuan | Arti Penelitian |
|---|---|---|
| Tulang titanosaurus | Memiliki lubang bioerosi | Menandakan aktivitas organisme setelah kematian |
| Osteoderm titanosaurus | Memiliki lubang serupa | Bukti baru pada pelindung kulit dinosaurus |
| Larva Dermestes frischii | Membentuk jejak sejenis | Mendukung dugaan peran kumbang dermestid |
Eksperimen Mengarah ke Kumbang Dermestid
Karakter lubang purba itu dibandingkan dengan jejak organisme modern dan mengarah pada kumbang dermestid. Kelompok serangga ini memakan jaringan hewan yang membusuk serta mampu membuat lubang pada tulang.
Tim penelitian menguji larva Dermestes frischii dalam kondisi eksperimen. Larva tersebut menghasilkan struktur yang serupa setelah sedikitnya 240 jam, meski proses di alam liar diperkirakan dapat berlangsung lebih lama.
Durasi itu menjadi bagian penting dalam penafsiran fosil Lo Hueco. Bangkai titanosaurus diduga berada cukup lama di permukaan, atau setidaknya tetap terbuka bagi serangga, sebelum endapan sedimen mengubur sisa rangkanya.
Penguburan Tidak Terjadi Seketika
Serangga tidak dapat membuat galian pada bangkai yang telah tertutup tanah. Karena itu, bioerosi pada tulang dan osteoderm menunjukkan adanya jeda antara kematian, pembusukan, aktivitas pemakan bangkai, dan penguburan.
Studi yang dipimpin Profesor Zain Belaústegui dari Universitas Barcelona itu diterbitkan dalam Earth-Science Reviews. Penelitian tersebut juga melibatkan ahli dari National University of Distance Education serta entomolog forensik Universitas Alcalá.
Menurut Belaústegui, “Jika sisa-sisa rangka memfosil dengan jejak bioerosi, hal itu bisa sangat indikatif mengenai kondisi lingkungan purba tertentu.” Dengan demikian, jejak kumbang dapat membantu ilmuwan membaca kondisi pengendapan yang tidak selalu terlihat dari bentuk tulang saja.
Ukuran tubuh titanosaurus yang sangat besar kemungkinan menyediakan sumber daya bagi komunitas organisme pemakan bangkai dalam waktu cukup panjang. Bekas aktivitas nekrofag, pemakan jaringan segar, dan saprofag itu kini menjadi bagian dari rekaman geologi Lo Hueco.






