Dari Juara Premier League ke Klub yang Dijual, Beban Rugi Leicester Membesar

Keluarga Srivaddhanaprabha melunak terhadap kemungkinan menjual Leicester City setelah beban kerugian klub terus membesar. Klub yang pernah menjuarai Premier League itu kini ditawarkan mulai 222 juta Pounds melalui proposal Project Lineup.

Keputusan tersebut menandai perubahan sikap dari Aiyawatt Srivaddhanaprabha, pemimpin keluarga pemilik yang sebelumnya tidak menyetujui pelepasan aset klub. Tekanan finansial dalam lima tahun terakhir disebut menjadi alasan utama yang mengubah pertimbangan itu.

Leicester mencatat beberapa kerugian besar dalam periode tersebut. Angkanya menunjukkan beban yang berlangsung berulang, bukan persoalan keuangan yang terjadi sesaat.

CatatanKerugian
Periode 192,5 juta Pounds
Periode 289,7 juta Pounds
Periode 319,4 juta Pounds
Periode 471,1 juta Pounds

Harga Penawaran di Atas Estimasi Penilai

Harga mulai 222 juta Pounds mencakup keseluruhan portofolio aset Leicester City. Daily Mail yang dikutip Detik Sport menyebut nilai aset dalam paket penjualan itu mencapai 204 juta Pounds.

Calon pembeli akan mendapatkan Stadion King Power, pusat latihan Seagrave, dan fasilitas Belvoir Drive bersama kepemilikan klub. Aset-aset tersebut selama ini menjadi infrastruktur utama yang menopang operasional Leicester.

Meski demikian, sejumlah penilai menaksir nilai riil klub hanya berada di sekitar 150 juta Pounds. Selisih tersebut muncul ketika Leicester tidak lagi berada di level tertinggi ataupun kasta kedua sepak bola Inggris.

Aspek PenjualanNilai atau Isi
Harga awalMulai 222 juta Pounds
Nilai aset paket204 juta Pounds
Estimasi penilaiSekitar 150 juta Pounds
ProposalProject Lineup

Degradasi Memperberat Tantangan

Kondisi olahraga klub turut memperberat proses penjualan. Leicester akan tampil di League One pada musim 2026/2027 setelah terdegradasi dari Divisi Championship.

Degradasi itu berkaitan dengan sanksi pengurangan poin yang dijatuhkan setelah klub tersangkut pelanggaran aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan atau PSR pada Februari 2026. Status baru di kasta ketiga menjadi pertimbangan penting bagi pihak yang ingin mengambil alih klub.

Prospek di League One berbeda jauh dari posisi Leicester saat masih bersaing di Premier League. Nilai komersial dan kompetitif klub kini dinilai dalam konteks yang lebih berat dibandingkan masa kejayaannya.

Warisan dari Musim 2015/2016

Leicester pernah menciptakan kejutan besar dengan menjadi juara Premier League pada musim 2015/2016. Perjalanan setelah gelar tersebut diwarnai perubahan susunan skuad akibat kepergian sejumlah pemain bintang.

Riyad Mahrez kemudian dibeli Manchester City, sementara N’Golo Kante pindah ke Chelsea. Perubahan itu menjadi bagian dari perjalanan panjang klub hingga kini menghadapi penjualan aset dan kepemilikan.

Bagi calon pembeli, Project Lineup menawarkan fondasi infrastruktur yang lengkap, tetapi juga tantangan pemulihan di League One. Penawaran tersebut memperlihatkan kontras besar antara warisan gelar Premier League dan tekanan finansial yang kini dihadapi Leicester City.

Baca Juga