Lebih dari 30 Tahun Setelah Gempa 1992, NTT Kembali Diguncang Gempa M 7,7

Nusa Tenggara Timur kembali diguncang gempa kuat lebih dari 30 tahun setelah gempa bermagnitudo 7,5 pada 1992. Gempa terbaru pada Sabtu berkekuatan M 7,7 dan dipicu aktivitas Sesar Flores.

Peristiwa 1992 disebut menyebabkan kerusakan parah di kawasan dengan episentrum yang berdekatan. Kemunculan gempa kuat kembali di wilayah tersebut membuat pemantauan pascagempa menjadi perhatian BMKG.

Dua Gempa Kuat di Kawasan yang Berdekatan

PeristiwaMagnitudoInformasi utama
Gempa tahun 19927,5Menyebabkan kerusakan parah
Gempa pada Sabtu7,7Dipicu aktivitas patahan utara Flores

Gempa terbaru memiliki magnitudo lebih besar dibandingkan peristiwa yang tercatat pada 1992. BMKG menyatakan aktivitas sumber gempa kali ini berasal dari zona patahan aktif di perairan utara Flores.

Zona tersebut merupakan bagian dari sesar naik belakang busur Flores atau Flores back-arc thrust fault. Pelepasan energi pada patahan itu menyebabkan guncangan kuat yang dirasakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kekuatan Gempa Dekati Potensi Maksimum

BMKG memperkirakan Sesar Flores memiliki potensi gempa maksimum hingga magnitudo 7,8 sampai 7,9. Gempa M 7,7 yang terjadi berarti kekuatannya sudah berada dekat dengan kisaran potensi tersebut.

Direktur Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan sesar naik Flores memang berpotensi memicu gempa besar. Ia menyatakan, “Sesar naik Flores memiliki potensi gempa maksimum hingga 7,8 sampai 7,9. Hari ini, gempa bumi bermagnitudo 7,7 telah terjadi.”

BMKG terus mengawasi gempa susulan setelah guncangan utama. Pemantauan ketat dilakukan untuk melihat perkembangan aktivitas kegempaan di sekitar wilayah sumber gempa.

Peringatan Tsunami Diakhiri

Setelah gempa terjadi, BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami bagi kawasan pesisir di sekitar lokasi kejadian. Peringatan tersebut ditujukan untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan gelombang laut.

Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri secara resmi pada pukul 07.30 WIB atau 00.30 GMT. Meski demikian, pemantauan potensi bahaya susulan tetap dilakukan.

Stasiun pasang surut digunakan untuk merekam kondisi permukaan air laut setelah gempa. BMKG akan terus menyampaikan perkembangan situasi kepada masyarakat secara berkala.

Wijayanto menegaskan bahwa pengawasan permukaan air laut masih berlanjut setelah penghentian peringatan. Pemantauan itu melengkapi pengawasan aktivitas gempa susulan di Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga