Komentar jujur dari pengguna biasa kini dapat lebih meyakinkan bagi Gen Alpha dibanding promosi produk kecantikan yang terlalu sempurna. Konten tentang produk yang tidak bekerja sesuai harapan turut dipakai sebagai bahan untuk menyaring klaim sebelum membeli.
Perubahan ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap tren tidak otomatis berubah menjadi kepercayaan. Konsumen termuda semakin terbiasa melihat informasi dari berbagai pihak sebelum menentukan produk yang akan digunakan.
Ulasan Pembeli Menjadi Pemeriksaan Awal
Pendiri firma konsultasi butik C Cultural, Lisa Zheng, menilai pengaruh ulasan pembeli semakin kuat dalam pasar kecantikan. Pengalaman yang ditampilkan pengguna lain dipandang dapat memberi gambaran yang lebih dekat dengan kondisi penggunaan nyata.
Produk dengan desain unik, kemasan menarik, atau tampilan baru memang dapat cepat mengundang perhatian di media sosial. Namun, Gen Alpha tidak hanya mengandalkan rekomendasi kreator untuk memutuskan apakah produk itu layak dicoba.
Mereka juga membaca komentar, memeriksa kandungan, dan membandingkan pengalaman pembeli lain. Proses tersebut membuat informasi dari sesama pengguna berfungsi sebagai penyeimbang terhadap promosi digital.
Kebiasaan itu tumbuh seiring mudahnya makeup dan perawatan kulit hadir di layar anak-anak serta remaja. Video pendek, unggahan pengguna, dan konten kreator membuat produk kecantikan dapat dikenal dalam waktu sangat singkat.
Produk Ditemukan Saat Pengguna Menggulir Layar
Di China, penemuan produk sering tidak dimulai dari pencarian yang terarah. Pendiri perusahaan konsultan China Chozan, Ashley Dudarenok, mengatakan, “Mereka tidak mencari, mereka menggulir.”
Pernyataan itu menggambarkan pola ketika tren muncul saat pengguna menelusuri media sosial. Setelah menemukan suatu produk, konsumen muda lalu mencari pembanding untuk memeriksa apakah perhatian yang muncul sejalan dengan kualitas dan kecocokan produk.
AI menjadi salah satu alat yang digunakan dalam tahap pembandingan tersebut. Survei terhadap 1.200 konsumen kecantikan China generasi pasca-2000 menemukan lebih dari 76 persen responden pernah memakai AI untuk keputusan terkait kecantikan atau perawatan kulit.
| Fungsi AI dalam Keputusan Kecantikan | Persentase Responden |
|---|---|
| Menilai kecocokan kandungan | 42,79 persen |
| Membandingkan produk atau merek | 39,88 persen |
| Menentukan kelayakan membeli | 37,23 persen |
Teknologi Tetap Diuji dengan Pendapat Manusia
AI dinilai menarik karena memberi kesan objektif ketika menganalisis kulit dan menyarankan perawatan. Namun, teknologi tersebut belum menjadi penentu tunggal karena 35,07 persen responden masih meragukan akurasinya.
Sebanyak 29,44 persen responden juga menilai ulasan manusia lebih autentik. Jika pendapat AI dan kreator tidak sejalan, konsumen muda cenderung menggabungkan keduanya dengan sumber informasi lain.
Kebiasaan menyaring informasi juga penting bagi konsumen kecantikan di Indonesia. BPOM menemukan lebih dari 2,1 juta kosmetik tidak memenuhi ketentuan dalam intensifikasi pengawasan 2026 dengan nilai keekonomian sekitar Rp35,8 miliar.
Direktur konsultasi pola pikir WGSN China, Cece Zhu, mengatakan media sosial mempercepat pengenalan anak terhadap dunia kecantikan. Ia menekankan bahwa anak-anak tetap memerlukan produk dan pengalaman yang sesuai dengan usia.
“Para Alpha adalah konsumen yang sangat reaktif dan berorientasi pada status yang ‘berburu tren’ terbaru,” kata Zhu. Karena itu, pemeriksaan kandungan, klaim, dan keamanan dapat membantu konsumen tidak sekadar mengikuti produk yang sedang ramai di linimasa.






