Biaya software enterprise dengan skema langganan dapat terlihat ringan pada awal penggunaan, tetapi berpotensi membesar seiring pertumbuhan jumlah pengguna dan penyesuaian harga tahunan. Dalam simulasi PT Ilmuprogram Teknologi Informasi, model kepemilikan penuh mulai menghasilkan efisiensi setelah melewati akhir tahun kedua.
Untuk perusahaan dengan 100 pengguna, selisih biaya model kepemilikan pada akhir tahun kelima diproyeksikan mencapai sekitar 29 persen atau Rp1,87 miliar. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi biaya lisensi Rp750 ribu per pengguna per bulan dengan kenaikan harga 5 persen setiap tahun.
Biaya awal lebih tinggi, arah pengeluaran berubah
Model kepemilikan menuntut biaya implementasi di awal sehingga belum menjadi opsi paling murah dalam dua tahun pertama. Namun, pengeluaran setelah implementasi tidak lagi dibebani lisensi per pengguna maupun kewajiban perpanjangan tahunan.
| Periode | Posisi Biaya | Selisih Kepemilikan |
|---|---|---|
| Dua tahun pertama | Lisensi tahunan lebih rendah | Belum lebih murah |
| Akhir tahun kedua | Titik impas simulasi | Setara |
| Akhir tahun ketiga | Kepemilikan mulai lebih efisien | Sekitar 13% atau Rp580 juta |
| Akhir tahun kelima | Efisiensi makin melebar | Sekitar 29% atau Rp1,87 miliar |
Founder dan Direktur PT Ilmuprogram Teknologi Informasi, Wahyu Amaldi, menegaskan simulasi tersebut bukan pengukuran biaya pada klien tertentu. Nilai sebenarnya tetap bergantung pada jumlah pengguna, cakupan modul, tingkat kustomisasi, dan pilihan infrastruktur.
“Model kepemilikan tidak selalu lebih murah di tahun pertama, justru biasanya lebih mahal. Yang berubah adalah arah biayanya. Langganan naik setiap tahun mengikuti jumlah pengguna dan penyesuaian harga, sementara biaya kepemilikan menurun setelah implementasi selesai,” ujar Wahyu dalam keterangan yang dikutip mediaindonesia.com.
Source code dan kendali operasional
Ilmuprogram menawarkan Kepemilikan Software dengan penyerahan platform beserta source code kepada klien saat implementasi selesai. Sistem dapat dipasang pada server internal perusahaan atau layanan cloud yang dipilih oleh klien.
Skema itu memungkinkan perusahaan mengaudit sistem, mengembangkan fitur melalui tim internal, atau melanjutkan pengembangan bersama mitra teknologi lain. Pilihan tersebut menjadi penting ketika perusahaan ingin mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap satu vendor.
Wahyu menilai ketergantungan vendor perlu diperhatikan saat perusahaan mulai memakai AI dalam proses bisnis inti. Menurutnya, perusahaan yang ingin mengubah proses kerja sendiri sering kali harus menunggu dukungan dari penyedia sistem.
AI dan perlindungan data perusahaan
Risiko penggunaan AI tidak hanya terkait biaya layanan, melainkan juga lokasi pemrosesan data dan kemampuan perusahaan mengendalikan sistemnya. Pengiriman data ke lingkungan pihak lain dapat berkaitan dengan kebutuhan Kedaulatan Data, kepatuhan regulasi, serta potensi vendor lock-in.
Setiap sektor memiliki standar kepatuhan yang berbeda, termasuk kewajiban yang berkaitan dengan UU Perlindungan Data Pribadi Nomor 27 Tahun 2022. Ilmuprogram menyatakan platformnya dirancang mengikuti sejumlah standar seperti IFRS 16/PSAK 73, ISO 55000, HL7 FHIR R4, SatuSehat, dan pelaporan PDDIKTI sesuai kebutuhan sektor.
Produk Ilmuprogram Agentic AI Platform diposisikan sebagai lapisan orkestrasi yang menghubungkan AI agent dengan sistem inti perusahaan. Proses inferensi dijalankan di infrastruktur milik klien, sementara agent dapat menerima perintah bahasa natural, mengambil data, dan menjalankan tindakan otomatis lintas aplikasi.
Integrasinya mencakup Enterprise Asset Management, Spending Management, Budgeting & Planning, CRM, Supply Chain Management, hingga SAP. Pemanfaatannya antara lain untuk membuat purchase request, memeriksa ketersediaan anggaran, dan menerbitkan work order pemeliharaan.






