Kentang Baru Digali Terasa Seperti Direbus, Jejak Panas Ekstrem di Tanah Korea Selatan

Kentang yang baru digali dari tanah di Kabupaten Yanggu, Korea Selatan, dilaporkan sudah terasa lunak seperti kentang rebus. Temuan itu menjadi salah satu tanda paling nyata bahwa suhu ekstrem telah memengaruhi tanah tempat tanaman pangan tumbuh.

Petani Lee Sang Hyuk mengatakan ia belum pernah menghadapi kondisi serupa selama puluhan tahun bertani. “Seperti kentang yang direbus,” ujarnya, seperti dikutip Tuoitre.

Panas Tidak Hanya Terasa di Permukaan

Lee menduga panas yang berlangsung lama meningkatkan suhu tanah hingga sangat tinggi. Akibatnya, kentang panen lembek ditemukan bahkan sebelum umbi tersebut menjalani proses pengolahan.

Kejadian di Yanggu memperlihatkan bahwa dampak gelombang panas tidak sekadar dirasakan oleh orang yang beraktivitas di luar ruangan. Tanah sebagai media tumbuh juga dapat mengalami tekanan suhu, dengan akibat langsung terhadap kondisi hasil panen.

Yanggu berada di Provinsi Gangwon, wilayah timur laut Korea Selatan yang menghadapi kondisi panas serius. Pemerintah setempat telah mengeluarkan peringatan panas ekstrem pertama untuk beberapa kawasan, termasuk Chuncheon, Hongcheon, dan Hoengseong.

Rekor 42,5 Derajat Celsius

Intensitas panas tercermin dari catatan suhu di Kota Yangsan, bagian tenggara Korea Selatan, pada awal Agustus. Suhu mencapai 42,5 derajat Celsius, tertinggi yang pernah tercatat di negara itu sejak 1904.

Catatan tersebut memberi konteks atas laporan kerusakan komoditas pertanian di berbagai daerah. Suhu yang tinggi dan berlangsung lama dapat memengaruhi tanaman dengan cara berbeda, tergantung jenis komoditas serta kondisi lahannya.

Melon Berubah Cepat di Gwangju

Di Gwangju, petani Hong Kyung Hee menghadapi masalah lain pada kebun melon. Ia menemukan buah melon membusuk dalam waktu sangat singkat setelah sebelumnya masih dalam kondisi baik.

Kepada KBS, Hong mengatakan bagian dalam melon masih manis tiga hari sebelumnya. “Tiga hari lalu, bagian dalam melon masih manis dan semuanya baik-baik saja. Tiba-tiba setelah satu malam, semuanya menjadi seperti ini,” katanya.

Hong mengaku belum pernah menyaksikan perubahan seperti itu selama 50 tahun bekerja sebagai petani. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa panas ekstrem Korea Selatan dapat memicu kerusakan cepat pada hasil hortikultura.

Korban pada Manusia dan Sektor Pangan

Gangguan akibat cuaca ekstrem juga dicatat di luar sektor perkebunan. KDCA melaporkan sedikitnya 31 orang meninggal dunia akibat kondisi cuaca tersebut.

BidangJumlah TerdampakCatatan
ManusiaSedikitnya 31 orangMeninggal akibat cuaca ekstrem
Hewan ternakLebih dari 900.000 ekorDilaporkan mati
Ikan budidayaSekitar 1,4 juta ekorDilaporkan mati

Lebih dari 900.000 hewan ternak dan sekitar 1,4 juta ikan budidaya juga dilaporkan mati. Data itu menunjukkan luasnya gangguan suhu tinggi terhadap produksi pangan dan kehidupan masyarakat.

Kasus kentang di Yanggu dan melon di Gwangju memperlihatkan dua bentuk kerusakan yang berbeda. Umbi kentang melunak saat masih berada dalam tanah, sedangkan melon mengalami pembusukan cepat setelah sebelumnya masih layak.

Perbedaan tersebut menegaskan bahwa kerusakan hasil panen akibat panas tidak selalu muncul dengan gejala yang sama. Namun, seluruh laporan itu memperlihatkan risiko besar saat suhu ekstrem berlangsung berkepanjangan di berbagai wilayah Korea Selatan.

Baca Juga