Kelas menengah dinilai perlu didorong lebih jauh ke kegiatan produksi agar tidak hanya menjadi penggerak konsumsi domestik. Langkah itu dipandang penting untuk mengurangi risiko ekonomi yang terlalu bergantung pada belanja, terutama ketika sebagian barang kebutuhan masih berasal dari impor.
Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Abdul Manap Pulungan, menilai kelas menengah Indonesia masih rapuh. Menurut dia, kelompok tersebut selama ini lebih banyak dipahami melalui kontribusi konsumsi, bukan melalui peran dalam menghasilkan barang dan jasa.
Manufaktur dan sektor utama menjadi fokus
Abdul menyebut pertanian, industri manufaktur, dan pertambangan sebagai tiga sektor yang menopang perekonomian. Ketiganya dinilai perlu menjadi fokus bila pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi ke kisaran 6 hingga 7 persen.
Di antara sektor tersebut, manufaktur memerlukan perhatian khusus karena investasi dinilai cenderung melambat. Perlambatan terutama terlihat pada industri dengan penyerapan tenaga kerja besar, seperti makanan dan minuman serta tekstil.
Penguatan sektor produksi dinilai harus berjalan bersama kebijakan untuk menjaga kemampuan belanja masyarakat. Konsumsi yang tumbuh tidak akan sepenuhnya memperkuat ekonomi domestik apabila kebutuhan barang masih banyak dipenuhi melalui impor.
“Kalau ingin 6-7 persen, sektor-sektor yang saya sampaikan tadi memang harus menjadi fokus pemerintah,” kata Abdul. Ia memandang pertumbuhan yang berkelanjutan membutuhkan basis produktif yang lebih kuat daripada sekadar peningkatan aktivitas belanja.
Data menunjukkan peran besar belanja rumah tangga
Badan Pusat Statistik mencatat konsumsi rumah tangga menyumbang 53,32 persen terhadap produk domestik bruto pada kuartal II 2026. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada periode itu tercatat sebesar 5,06 persen.
| Indikator | Periode | Nilai |
|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | Kuartal II 2026 | 5,29 persen secara tahunan |
| Pertumbuhan ekonomi | Kuartal II 2025 | 5,61 persen secara tahunan |
| Pertumbuhan konsumsi rumah tangga | Kuartal II 2026 | 5,06 persen |
| Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB | Kuartal II 2026 | 53,32 persen |
| Pertumbuhan ekonomi | Semester I 2026 | 5,46 persen |
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat 5,29 persen secara tahunan. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan 5,61 persen pada kuartal II 2025, sedangkan pertumbuhan semester I 2026 berada pada level 5,46 persen.
Abdul mengatakan konsumsi rumah tangga dan investasi langsung berkontribusi sekitar 80 hingga 85 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Besarnya porsi ini menjadikan ketahanan kelas menengah penting, tetapi ia menekankan bahwa ketahanan tidak boleh hanya diukur dari kemampuan berbelanja.
Perlindungan daya beli dinilai belum memadai
Kontribusi konsumsi terbesar disebut berasal dari kelompok menengah atas. Sebaliknya, kelompok menengah bawah memberi kontribusi lebih kecil sehingga dipandang perlu memperoleh perlindungan yang lebih kuat.
Abdul menilai stimulus pemerintah cenderung lebih memberi manfaat kepada kelompok berpenghasilan atas. Kebijakan yang membantu kelas menengah menjaga konsumsi rumah tangga dinilai masih terbatas.
“Selama ini kalau kita perhatikan justru stimulus yang dilakukan pemerintah itu justru bias kepada kelas atas bukan memberikan kemudahan-kemudahan bagi kelas menengah untuk tetap mampu menahan atau menjaga konsumsi rumah tangganya,” kata Abdul.
Menurutnya, kelas menengah perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan produktif. Perubahan arah ini akan membuat kelompok tersebut tidak hanya menjadi pasar bagi barang konsumsi, tetapi juga memiliki ruang lebih besar dalam kegiatan ekonomi bernilai tambah.
Kualitas pekerjaan turut menentukan
Abdul juga menyoroti kualitas pekerjaan yang tercipta di tengah pertumbuhan ekonomi. Turunnya jumlah maupun tingkat pengangguran dinilai belum cukup untuk menunjukkan bahwa pertumbuhan telah berkualitas.
Pemerintah perlu memperhatikan jenis pekerjaan yang terbentuk dan kelompok yang terserap dalam pasar kerja. Penyerapan tenaga kerja informal dinilai belum memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan, sementara pengangguran lulusan S1 ke atas masih menjadi persoalan.
Penciptaan pekerjaan yang lebih produktif dapat memperkuat peran kelas menengah dalam ekonomi. Kebijakan yang menggabungkan perlindungan daya beli, penguatan manufaktur, dan perluasan kerja produktif dinilai menjadi kebutuhan agar fondasi ekonomi tidak rapuh.






