Khalil Al Hayya memasuki jabatan tertinggi di biro politik Hamas dengan riwayat kehilangan banyak anggota keluarga dalam serangan Israel. Ia juga dilaporkan selamat dari serangan di Doha, Qatar, pada September 2025.
Di tengah risiko keamanan tersebut, Hamas memilihnya untuk menggantikan Yahya Al Sinwar yang tewas dalam serangan Israel pada Oktober 2024. Al Hayya akan memimpin biro politik kelompok itu hingga 2027, saat pemilihan pemimpin baru dijadwalkan berlangsung.
Serangan yang Menimpa Keluarga
Serangan udara pada Mei 2007 menghantam rumah Al Hayya dan menewaskan tujuh kerabatnya. Dua saudara laki-lakinya termasuk di antara korban dalam serangan tersebut.
Pada tahun berikutnya, putranya Hamza yang tergabung dalam Brigade Qassam juga tewas. Serangan-serangan berikutnya kembali merenggut anggota keluarganya, termasuk putra sulung, istri, serta tiga anak mereka.
Rentetan kehilangan itu tidak menghentikan peran Al Hayya di jajaran politik Hamas. Kini, ia memikul tanggung jawab memimpin kelompok tersebut ketika konflik Israel-Palestina masih berlangsung.
Dari Perundingan ke Kepemimpinan Tertinggi
Sebelum diangkat menjadi kepala biro politik, Al Hayya dikenal sebagai negosiator utama Hamas dalam pembicaraan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel. Posisi itu menjadikannya salah satu figur yang berperan pada jalur politik Hamas selama perang berkepanjangan.
Ia juga disebut mengelola hubungan Hamas dengan Iran, yang menjadi sekutu regional kelompok itu. Keterlibatan tersebut menunjukkan cakupan perannya melampaui urusan internal Gaza.
Hamas menyampaikan pengangkatan Al Hayya melalui pernyataan pada Senin (20/7). Dalam pernyataan yang dikutip AFP dan dilaporkan CNN Indonesia, Hamas menyebutnya sebagai “saudara mujahid” yang dipilih memimpin biro politik gerakan itu.
Jejak Awal di Gaza
Al Hayya lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960 dan tumbuh setelah Perang Arab-Israel 1967 serta pendudukan Israel. Masa kecilnya disebut diwarnai penggerebekan militer di rumah keluarga dan penangkapan sejumlah anggota keluarga.
Pertemuannya dengan pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, pada Maret 1980 mendorong keterlibatannya dalam aktivisme terorganisir. Ia kemudian tercatat sebagai salah satu anggota pendiri Hamas pada 1987.
Pada masa Intifada pertama, Al Hayya berulang kali dipenjara Israel dan disebut mengalami penyiksaan berat selama penahanan. Pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan politiknya sebelum memasuki lembaga legislatif Palestina.
Ia memperoleh kursi di Dewan Legislatif Palestina pada 2006 dan secara resmi terjun ke dunia politik. Setelah itu, Al Hayya memimpin blok parlemen Hamas.
Pendidikan dan Organisasi
Al Hayya menempuh pendidikan Islam di Gaza, Yordania, dan Sudan. Ia juga tergabung dalam Asosiasi Cendekiawan Palestina.
| Tahun | Pendidikan | Institusi/Lokasi |
|---|---|---|
| 1983 | Gelar sarjana studi Islam | Universitas Islam Gaza |
| 1986 | Gelar master | Universitas Yordania |
| 1997 | Doktor ilmu hadits | Sudan |
Rekam jejaknya sebagai perunding, anggota parlemen, dan penghubung hubungan regional menjadi dasar bagi masa kepemimpinannya. Tantangan utamanya adalah menjaga peran politik Hamas di tengah konflik yang terus membayangi kelompok tersebut.






