Kanal Sipil Pantau Ancaman Rusia, Informasi yang Membantu tapi Berisiko bagi Kyiv

Kanal pemantauan sipil di Telegram membantu sebagian warga Kyiv membaca ancaman rudal dan drone Rusia secara waktu nyata. Namun, keberadaan kanal tersebut berada dalam wilayah abu-abu karena informasi yang terlalu rinci berpotensi dimanfaatkan Rusia.

Angkatan Udara Ukraina tidak secara tegas melarang kanal-kalan itu. Juru bicara Angkatan Udara Ukraina Yuri Ignat mengatakan informasi tersebut dapat memudahkan masyarakat, dengan catatan pengelolanya tidak membagikan data secara berlebihan.

“Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan,” ujar Ignat kepada AFP.

Sejumlah pengelola kanal disebut menggunakan informasi langsung dari kontak di lingkungan angkatan udara Ukraina. Meski demikian, cara mereka memperoleh akses terhadap informasi tersebut tidak dijelaskan kepada publik.

Telegram sebagai Lapisan Informasi Tambahan

Bagi warga Kyiv, informasi dari Telegram bukan pengganti sirene dan peringatan resmi. Kanal-kalan itu menjadi pelengkap untuk memperkirakan arah ancaman, jenis serangan, serta area yang mungkin terdampak.

Ketidakpastian tetap menjadi bagian dari situasi tersebut karena kondisi di udara dapat berubah sangat cepat. Banyak warga kemudian membandingkan informasi dari beberapa kanal sebelum menentukan apakah perlu mencari perlindungan.

AncamanData yang TerlihatKonsekuensi
Rudal balistikBerpotensi tiba di Kyiv sekitar tiga menit setelah sireneWarga hanya memiliki waktu singkat untuk bertindak
Drone RusiaDigambarkan sebagai ikon merah bergerak di petaPosisi ancaman dapat diperkirakan secara lebih spesifik

Kecepatan menjadi faktor penting ketika Rusia memakai rudal balistik dalam serangan malam hari. Rudal jenis ini dapat melaju ribuan kilometer per jam dan disebut mampu mencapai Kyiv sekitar tiga menit setelah sirene berbunyi.

Ancaman drone juga membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Titik merah pada peta dapat menghilang setelah drone ditembak jatuh oleh angkatan udara Ukraina, tetapi dapat pula kembali muncul.

Esko dan Peringatan Satu Menit

Salah satu kanal yang banyak diikuti adalah Aeris Rimor, dengan sekitar 150 ribu pengikut. Kanal tersebut dikelola seorang administrator berusia 19 tahun yang memakai nama samaran Esko.

Pada suatu malam setelah sirene berbunyi, Esko melihat titik merah bergerak di peta dan menyimpulkan sebuah rudal mengarah ke Kyiv. Ia mengirim pesan “TARGET KYIV!” disertai perkiraan dampak sekitar satu menit serta nama distrik yang berpotensi menjadi sasaran.

Beberapa detik setelah pesan itu terkirim, ledakan terdengar di sejumlah area ibu kota. Esko harus terus menatap layar agar tidak kehilangan jejak ancaman yang sedang bergerak.

Menurut laporan AFP yang dikutip CNNIndonesia.com, Esko melakukan pemantauan dari rumahnya, termasuk pada malam hari. Ketika situasi sepi, ia menonton serial Criminal Minds atau berlatih menerbangkan drone menggunakan simulator elektronik.

Dilema Warga di Tengah Serangan

Warga Kyiv sering harus memilih antara pergi ke stasiun metro atau bertahan di apartemen, terutama saat ancaman muncul pada malam hari. Perlindungan bawah tanah lebih aman, tetapi dapat memaksa mereka tidur dalam kondisi tidak nyaman selama berjam-jam.

Kateryna Reshetnyk, warga berusia 34 tahun, pernah pergi ke stasiun kereta bawah tanah bersama ibu dan neneknya ketika sinyal ancaman Rusia dinilai beragam. Ia membawa kursi lipat dan menyiapkan tempat tidur sementara di dekat pintu putar.

“Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup,” ujar Reshetnyk.

Ratusan orang lain mendatangi metro dengan alas tidur, tenda, bantal, hingga anjing peliharaan. Mereka mengikuti pergerakan serangan karena kerabat dan rekan mereka berada di berbagai lokasi di Kyiv serta wilayah sekitarnya.

Esko mengaku tanggung jawab mengirim peringatan membawa beban besar karena unggahannya dapat memengaruhi keputusan banyak orang. Sebagian besar waktunya kini dipakai memantau ratusan drone, sementara waktu tidur hanya tersisa beberapa jam.

Dalam masa tenang, kecemasan tetap muncul karena ada dugaan Rusia sedang mengumpulkan persenjataan untuk serangan berikutnya. Kanal pemantauan sipil akhirnya menjadi ruang informasi yang berguna bagi warga, sekaligus menuntut kehati-hatian tinggi dari pengelolanya.

Baca Juga