Dari WhatsApp ke Grup Politik Luar Negeri, Jaringan Kreator Indonesia Mengejar Interaksi Facebook

Jaringan kreator Indonesia menggunakan grup Facebook dan WhatsApp untuk bertukar informasi mengenai komunitas politik luar negeri yang dinilai menguntungkan. Rekomendasi itu mengarahkan unggahan ke ruang percakapan Amerika Serikat dan Australia dengan keterlibatan pengguna yang tinggi.

Tujuan utamanya bukan membangun kampanye politik, melainkan mengejar pendapatan dari monetisasi Meta. Kreator memilih grup berdasarkan peluang respons terhadap unggahan, meski tidak selalu mengikuti isu yang sedang diperdebatkan anggotanya.

Seorang kreator asal Jawa Barat bernama samaran Adira disebut menjadi bagian dari jaringan tersebut. Menurut laporan The Guardian yang dikutip Kompas.com, ia menerima gambar, video, dan saran grup dari sosok yang disebutnya sebagai pemimpin.

Anggota jaringan juga membagikan rekomendasi komunitas yang dianggap mampu menghasilkan interaksi besar. Selain informasi dari sesama kreator, algoritma Facebook membantu mereka menemukan kelompok baru yang berkaitan dengan topik atau tokoh tertentu.

Berangkat dari Grup Pauline Hanson

Adira melihat Team Pauline Hanson sebagai salah satu grup yang berpotensi memberi pendapatan baik. Setelah itu, ia mencari komunitas lain yang masih berhubungan dengan Pauline Hanson melalui rekomendasi yang muncul di Facebook.

Team Pauline Hanson merupakan grup pendukung senator Australia sekaligus pemimpin Partai One Nation tersebut. Adira juga mengunggah materi ke sejumlah komunitas konservatif yang menyasar audiens Amerika Serikat.

KomunitasSasaran PolitikKeterangan
Team Pauline HansonAustraliaPendukung Pauline Hanson dan Partai One Nation
I Love the USA!Amerika SerikatKomunitas bertema dukungan terhadap Amerika Serikat
JD VANCE 2028Amerika SerikatGrup yang menggunakan nama JD Vance
Pete Hegseth Fans dan komunitas Charlie KirkAmerika SerikatKomunitas penggemar tokoh konservatif

Adira mengatakan penghasilannya tidak datang dari agensi maupun organisasi politik. Pendapatan tersebut bergantung pada program kreator Meta yang memberikan imbalan berdasarkan tingkat keterlibatan pengguna.

“Kami tidak mengikuti politik luar negeri, kami tidak ingin terlibat. Kami hanya berusaha mendapatkan lebih banyak dolar,” kata Adira kepada The Guardian.

Ia mengaku tidak mengetahui detail tokoh politik yang ramai di dalam grup-grup tersebut. “Kami hanya mencari dolar. Kami bahkan tidak tahu siapa presidennya. Grup Pauline menghasilkan dollar yang bagus,” ujarnya.

Model Bisnis yang Memacu Konten

Meta menyatakan telah membayarkan hampir 3 miliar dollar AS, atau sekitar Rp53 triliun, kepada kreator sepanjang 2025. Pembayaran itu meliputi Reels, foto, serta unggahan teks yang masuk ke dalam program monetisasi perusahaan.

Peneliti media Queensland University of Technology, Timothy Graham, menilai pola tersebut berkaitan dengan insentif model bisnis Meta. Sistem yang memberi imbalan dari interaksi mendorong kreator menghasilkan materi yang dapat menarik perhatian dan memancing respons.

Penulis Kompas Angtyasti Jiwasiddi menilai pekerjaan seperti ini diminati kelompok ekonomi rentan karena tidak membutuhkan modal atau keterampilan besar. Menurutnya, profesi tersebut dapat dilakukan hanya dengan telepon genggam dan beberapa akun.

Kaitannya dengan Ekonomi Buzzer

Peneliti Australian National University, Ross Tapsell, menempatkan fenomena ini dalam konteks ekonomi buzzer yang telah lama dikenal di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa buzzer adalah akun yang memperkuat pesan tertentu di media sosial dan kerap menyembunyikan insentif finansial di balik aktivitasnya.

Tapsell menyebut kelompok tersebut dapat mencakup pemburu klik, pihak yang terkait dengan perusahaan periklanan, partai politik, hingga aktor yang didukung negara. Namun, tidak ada keterangan dalam laporan bahwa Adira dibayar oleh organisasi atau pihak politik tertentu.

The Guardian sebelumnya menemukan sejumlah grup pendukung One Nation terbesar di Facebook tampak dikelola dan dipenuhi kreator dari luar negeri. Banyak di antaranya disebut berasal dari Indonesia dan memanfaatkan tingginya keterlibatan politik sebagai sumber pendapatan digital.

Baca Juga