Janji Energi Murah Trump Tertekan, Minyak Brent Dekati 90 Dollar akibat Iran

Lonjakan harga minyak menekan janji Donald Trump untuk menghadirkan biaya energi yang lebih rendah bagi warga Amerika Serikat. Minyak mentah Brent sepanjang pekan ini mendekati 90 dollar AS per barrel, sementara harga bensin di Amerika Serikat mencapai kisaran 4 dollar AS per galon.

Perubahan harga tersebut terjadi saat konflik dengan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Bagi masyarakat, tekanan geopolitik itu terasa langsung melalui biaya yang harus dibayar di SPBU.

Harga Bensin AS menjadi persoalan domestik yang penting karena bahan bakar termasuk pengeluaran rutin rumah tangga. Kenaikannya membuka ruang kritik politik terhadap pemerintahan Trump menjelang pemilu sela AS pada November.

Partai Demokrat mulai menjadikan dampak ekonomi dari konflik dengan Iran sebagai salah satu isu utama. Harga energi dinilai mudah menarik perhatian publik karena pengaruhnya terasa dalam kebutuhan sehari-hari.

Trump meminta warga menerima kenaikan harga itu sebagai konsekuensi dari langkah untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Ia menyampaikan sikap tersebut dalam pidato di Garden City, New York, pada Jumat (14/8/2026).

Dalam pidatonya, Trump menggambarkan tindakan Amerika Serikat sebagai upaya yang juga memiliki arti bagi dunia. “Apa yang kami lakukan adalah pengabdian yang luar biasa bagi dunia, tidak hanya untuk diri kita sendiri. Dan kita benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat,” ujarnya.

Trump menegaskan bahwa ia tidak akan meminta maaf atas serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Pernyataan ini datang ketika perhatian pasar tertuju pada kemungkinan gangguan di kawasan yang menopang distribusi energi global.

DataNilaiArti bagi Pasar
Harga minyak mentah BrentMendekati 90 dollar AS per barrelNaik sepanjang pekan ini
Harga bensin konsumen ASSekitar 4 dollar AS per galonMenambah pengeluaran rumah tangga
Pengiriman energi via Selat HormuzSekitar 20 persenDari minyak dan LNG dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi karena sekitar 20 persen pengiriman minyak dan LNG dunia melewati jalur tersebut. Ancaman gangguan berkepanjangan di kawasan itu dapat segera mendorong harga minyak dunia lebih tinggi.

Reuters, yang dikutip Kompas.com, melaporkan kenaikan Brent terjadi di tengah eskalasi retorika Amerika Serikat mengenai perairan vital tersebut. Pasar memantau kawasan ini karena perubahan situasinya dapat memengaruhi pasokan energi internasional.

Trump dalam pidato yang sama mengatakan akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah teritorial Amerika Serikat setelah Iran dikalahkan. Menurut Reuters, belum ada kejelasan mengenai keseriusan pernyataan tersebut atau statusnya sebagai kebijakan resmi pemerintah AS.

Perang Iran mempertemukan dua tekanan yang berbeda bagi Trump, yakni agenda keamanan nasional dan beban ekonomi konsumen. Pemerintahannya perlu menghadapi persepsi publik ketika harga energi bergerak berlawanan dengan janji biaya yang lebih rendah.

Naiknya harga bensin tidak hanya mencerminkan perubahan di pasar minyak, tetapi juga risiko pada rantai pasokan energi. Setiap kekhawatiran baru atas Selat Hormuz dapat memperbesar volatilitas harga minyak mentah.

Bagi warga Amerika Serikat, dampak paling nyata tetap berada pada angka yang terlihat di pompa bensin. Situasi ini menjadikan perkembangan konflik Iran dan keamanan Selat Hormuz sebagai faktor yang terus diawasi pasar serta arena politik domestik AS.

Baca Juga