Jalan Kaki 40 Menit dan Kelas Kayu, Potret Murid SD di Bawah Gunung Latimojong

Sejumlah murid dari Dusun Katabi harus berjalan kaki selama 30 hingga 40 menit untuk tiba di SDN 188 Nating setiap hari. Perjalanan itu berlangsung di kawasan dataran tinggi Enrekang yang akses jalannya semakin sulit saat musim hujan.

Jalur menuju sekolah masih terbatas, sementara guru juga melewati jalan tanah yang menanjak untuk sampai ke lokasi belajar. Dusun Katabi berada di kawasan ujung jalur pendakian Gunung Latimojong.

Di tengah tantangan perjalanan tersebut, sebagian kegiatan belajar masih berlangsung di ruang berdinding kayu papan. Sekolah itu memiliki tiga kelas kayu dan satu perpustakaan kayu yang tetap menjadi bagian dari fasilitas pendidikan.

Sementara itu, tiga ruang kelas permanen telah memperoleh bantuan revitalisasi pembangunan sekolah. Perbedaan kondisi bangunan tersebut memperlihatkan bahwa fasilitas belajar di sekolah itu masih bertumpu pada dua jenis konstruksi.

Fasilitas di SDN 188 Nating

FasilitasJumlahKeterangan
Ruang kelas kayu papan3Masih digunakan untuk pembelajaran
Perpustakaan kayu1Bangunan berbahan kayu
Ruang kelas permanen3Mendapat bantuan revitalisasi
ToiletTersediaTermasuk sarana sekolah

Bantuan untuk kelas permanen disebut diberikan melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan sekolah. Adapun SDN 188 Nating berada di bawah kaki Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Kondisi dataran tinggi membuat suhu pagi di wilayah itu dapat mencapai 11 derajat Celsius. Guru muda Afrizal Adi Prayoga menilai udara dingin membuat anak-anak cenderung membutuhkan banyak aktivitas fisik.

Selama sekitar tiga bulan mengajar, Afri melihat kemampuan kinestetik para murid cukup menonjol. Kegemaran bergerak juga terlihat dari minat warga terhadap olahraga voli dan sepak takraw.

Aktivitas fisik para siswa kemudian terekam dalam sebuah video yang diunggah Afri melalui akun Instagram @afrizaladii. Dalam rekaman itu, sejumlah murid terlihat bergelantungan pada rangka atap ruang kelas.

Video tersebut telah ditonton lebih dari 17 juta kali dan memperoleh sekitar satu juta tanda suka. Rekaman itu menarik perhatian karena memperlihatkan aktivitas anak-anak di tengah ruang belajar yang sebagian masih berbahan kayu.

Kepada detikEdu, Afri menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi saat ia meninggalkan kelas untuk menuju ruangan sebelah. Ketika kembali, ia melihat beberapa murid sudah bergelantungan dan sebagian lainnya baru memanjat rangka kelas.

“Kronologinya itu karena ditinggal ke kelas sebelah, jadi pas saya masuk sudah pada gelantungan dan ada yang baru manjat,” kata Afri. Ia menyatakan telah mengingatkan para siswa agar berhati-hati sebelum mengambil rekaman tersebut.

Setelah itu, para murid turun dari rangka kelas dengan lincah. Bagi Afri, kejadian tersebut menjadi salah satu pengalaman baru selama mengajar di daerah penugasan.

Pengabdian Guru Muda

Afri mengikuti Program Pijar, atau Pergi Mengajar, yang dijalankan oleh CT ARSA Foundation. Ia bertugas selama satu tahun sebagai Guru Muda di wilayah penugasan.

Program tersebut mengirimkan guru ke 27 titik daerah pelosok di Indonesia. Penugasan di Enrekang memperlihatkan perjuangan murid untuk tetap bersekolah meski harus menempuh akses sulit dan belajar dengan fasilitas yang belum seluruhnya permanen.

Baca Juga