Beristirahat di tengah pekerjaan tidak selalu berarti menghindari tanggung jawab. Jeda yang diambil pada waktu tepat dapat membantu tubuh menyimpan tenaga untuk aktivitas yang lebih penting.
Pandangan ini berkaitan dengan allostasis, yaitu cara tubuh menggunakan sumber daya secara efisien sesuai kebutuhan. Dalam kerangka tersebut, bekerja terus-menerus bukan satu-satunya jalan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Kesibukan Bukan Ukuran Tunggal
Jadwal yang penuh dan kebiasaan mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan kerap dianggap sebagai tanda Produktivitas. Namun, banyaknya aktivitas belum tentu berarti energi diarahkan pada pekerjaan dengan manfaat paling nyata.
Otak dan tubuh terus menimbang besarnya tenaga, waktu, serta beban yang harus dikeluarkan. Penilaian itu kemudian dibandingkan dengan kemungkinan hasil berupa imbalan, informasi, pembelajaran, atau pencapaian.
Jika manfaat tugas terasa lebih besar daripada beban yang diperkirakan, seseorang dapat memiliki dorongan lebih kuat untuk menuntaskannya. Sebaliknya, tugas dengan hasil yang dinilai kurang berarti dapat membuat otak memilih menghemat energi.
Prinsip Memilih Usaha
Penelitian psikolog Nathalie André bersama tim dari Universitas Poitiers, Perancis, yang dimuat dalam Neuroscience & Biobehavioral Reviews pada 2026, membahas pilihan manusia untuk berusaha atau beristirahat. Kajian itu menempatkan kemampuan mengatur waktu kerja dan pemulihan sebagai bagian dari strategi adaptif manusia.
Ilmu saraf komputasional mengenal principle of least effort atau prinsip usaha seminimal mungkin. Saat dua pilihan menawarkan hasil yang sama, otak cenderung memilih pilihan dengan kebutuhan energi lebih rendah.
Prinsip tersebut tidak menunjukkan bahwa manusia selalu enggan menghadapi tantangan. Teori active inference menjelaskan bahwa otak memperkirakan nilai suatu aktivitas sebelum mengalokasikan tenaga untuk melakukannya.
Hal itu membantu menjelaskan mengapa orang bersedia berlatih maraton, mendaki gunung, atau mempelajari keterampilan baru dalam waktu lama. Usaha yang melelahkan tetap dipilih ketika pembelajaran atau pencapaian yang diperoleh dianggap bermakna.
Delapan Bentuk Biaya Usaha
Keputusan untuk memulai pekerjaan dipengaruhi lebih dari sekadar kemauan. Otak dapat memperkirakan berbagai bentuk beban, yang sebagian bersifat lebih objektif dan sebagian lain bergantung pada persepsi tiap individu.
| Jenis Biaya | Aspek yang Dinilai |
|---|---|
| Energi metabolik | Tenaga yang dikeluarkan tubuh |
| Beban berpikir | Kebutuhan kendali kognitif |
| Waktu | Durasi penyelesaian pekerjaan |
| Tekanan waktu | Urgensi untuk segera bertindak |
| Kelelahan | Potensi lelah fisik dan mental |
| Rasa sakit | Kemungkinan ketidaknyamanan atau nyeri |
| Frustrasi dan peluang hilang | Konsekuensi dari memilih satu kegiatan |
| Risiko dan ancaman | Pemicu kecemasan yang mungkin muncul |
Waktu dan tenaga fisik cenderung dapat dilihat secara lebih jelas. Akan tetapi, beban berpikir, frustrasi, serta risiko dapat terasa sangat berbeda bagi tiap orang.
Laporan lifestyle.kompas.com juga mencatat salah satu studi pada anak-anak berusia enam tahun. Anak-anak tersebut lebih banyak tersenyum setelah menyelesaikan tugas sulit dibanding tugas mudah, serta lebih menyukai tantangan baru daripada pengulangan.
Temuan itu menunjukkan bahwa usaha tidak selalu dipandang sebagai beban. Ketika tantangan memberi kemajuan yang nyata, Manajemen Energi dapat membantu seseorang memilih kapan perlu bertahan dan kapan perlu mengambil jeda.






