Rp 40-50 Miliar untuk V8E, Farizon Bangun Produksi Lokal dengan Langkah Hati-Hati

Farizon menyiapkan investasi awal sekitar Rp 40 miliar hingga Rp 50 miliar untuk merakit V8E Cargo Van di Purwakarta. Dana tersebut diarahkan pada kesiapan produksi satu model kendaraan niaga energi baru.

Besaran investasi itu tidak langsung dipakai untuk mengejar kapasitas besar. Perusahaan memilih membangun perakitan secara bertahap dengan target awal sekitar 80 unit setiap bulan.

Director PT Arista Manufacturing Indonesia, Christoforus Ronny, mengatakan investasi awal berfokus pada kebutuhan peralatan produksi. Penjelasan itu disampaikan di fasilitas PT Handal Indonesia Motor di Purwakarta.

Perangkat Produksi Disiapkan Lebih Dulu

Filing machine, coupler, jig, dan berbagai special tools termasuk dalam peralatan yang dipersiapkan. Seluruh perangkat tersebut menjadi pendukung agar proses perakitan Farizon V8E dapat berlangsung di fasilitas lokal.

Pengadaan peralatan menjadi unsur utama dalam nilai investasi awal. Fasilitas perakitan membutuhkan perangkat tersebut untuk menangani proses produksi kendaraan yang telah direncanakan.

Aspek ProduksiNilai atau Status
Produk awalFarizon V8E Cargo Van
Investasi peralatanSekitar Rp 40-50 miliar
Kapasitas tahap awalSekitar 80 unit per bulan
Sertifikasi TKDNBelum diajukan

Menurut laporan oto.detik.com, kebutuhan dana untuk model lain nantinya dapat lebih rendah. Alasannya, sejumlah perangkat berpotensi dipakai bersama dalam penambahan model kendaraan berikutnya.

“Kisarannya ya, plus minus itu Rp 40-50 M (miliar). Ini buat satu model, tapi kan penambahan model lain kan ada yang common (sama). Paling tambahannya gak banyak,” ujar Ronny. Pernyataan itu menunjukkan adanya peluang efisiensi bila lini produk diperluas.

Volume Produksi Bergantung pada Pasar

Kapasitas 80 unit per bulan belum menjadi batas akhir produksi V8E. Farizon akan menentukan penyesuaian volume berdasarkan perkembangan kebutuhan kendaraan niaga energi baru.

Pendekatan tersebut membuat perusahaan tidak melakukan ekspansi sekaligus pada tahap awal. Produksi dapat dinaikkan atau disesuaikan ketika respons pasar berubah.

Ronny menjelaskan perusahaan masih ingin melihat kondisi pasar sebelum melangkah lebih jauh. “Perakitan V8 kita awal ini kan sebulan ya, kira-kira masih sekitar 80 unit ya. Bertahap nih. Kita mau lihat juga kondisi pasar seperti apa,” jelasnya.

Proyeksi TKDN Belum Menjadi Nilai Resmi

Persiapan perakitan lokal juga mencakup rencana tingkat kandungan dalam negeri untuk Farizon V8E. Perusahaan memperkirakan potensi TKDN dapat mencapai sekitar 40%.

Nilai itu masih berupa proyeksi dan belum melalui pengajuan sertifikasi. Karena belum diajukan, angka tersebut belum dapat dipastikan sebagai TKDN resmi kendaraan tersebut.

“Untuk TKDN kita perkirakan sekarang ya prospeknya akan ke 40%. Tapi ini kan kita belum mengajukan sertifikasinya ya,” kata Ronny. Tahap persiapan ini melengkapi rencana produksi lokal yang dimulai dari investasi peralatan dan volume terbatas.

Perakitan V8E di Purwakarta menjadi langkah awal Farizon dalam membangun produksi kendaraan niaga energi baru di dalam negeri. Perusahaan menempatkan kesiapan fasilitas, perkembangan permintaan, dan proses lokalisasi sebagai faktor yang berjalan beriringan.

Baca Juga