Penyusutan hutan alami di kawasan tangkapan Danau Toba mencapai sekitar 29 persen sepanjang 1988-2020. Perubahan lanskap ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan saat membaca dinamika muka air danau.
Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional menunjukkan penurunan muka air Danau Toba tidak hanya berkaitan dengan perubahan iklim. Pengoperasian pembangkit listrik tenaga air dan perubahan tata guna lahan juga memengaruhi cadangan air di danau tersebut.
Tutupan Hutan Berubah
Analisis citra satelit memperlihatkan hutan tanaman bertambah signifikan ketika luas hutan alami menyusut. Pada periode yang sama, kawasan permukiman dan lahan pertanian di sekitar Danau Toba juga terus bertambah.
Berkurangnya hutan alami berpotensi mengurangi kemampuan daerah tangkapan dalam menyerap dan menyimpan air hujan. Kondisi ini dapat memengaruhi besarnya fluktuasi muka air ketika pola hujan berubah.
Peneliti menilai pengelolaan kawasan tangkapan air tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan danau. Fungsi ekologis Danau Toba berkaitan langsung dengan perubahan penggunaan lahan di wilayah sekitarnya.
Peran PLTA dan Iklim
Penggunaan air untuk operasional PLTA disebut memberi pengaruh lebih dominan dibandingkan pemanfaatan air domestik masyarakat. Faktor manusia ini semakin penting setelah Bendungan Sigura-gura dan PLTA mulai beroperasi pada 1984.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Hendri, menganalisis catatan tinggi muka air Danau Toba selama 1957 hingga 2020. Kajian statistik lebih dari enam dekade itu menemukan titik perubahan pola pada 1984.
| Periode | Tren Muka Air | Faktor Menonjol |
|---|---|---|
| 1957-1984 | Turun sekitar 22 mm per tahun | Variabilitas iklim dan El Nino |
| Setelah 1984 | Turun sekitar 2 mm per tahun | Operasional PLTA dan perubahan tata guna lahan |
Sebelum 1984, muka air Danau Toba turun rata-rata sekitar 22 milimeter setiap tahun. Variabilitas iklim, terutama El Nino yang menekan curah hujan di daerah tangkapan, menjadi faktor utama pada masa tersebut.
Setelah 1984, laju penurunan jangka panjang tercatat sekitar 2 milimeter per tahun. Meski lebih stabil, tinggi muka air danau tetap berubah-ubah dari tahun ke tahun.
Penurunan Tajam pada Tahun-Tahun Ekstrem
Penurunan yang lebih tajam tercatat pada 1987, 1990, 1998, dan 2016. Periode tersebut berkaitan dengan gabungan El Nino dan Indian Ocean Dipole atau IOD positif.
Menurut paparan Hendri yang dimuat CNN Indonesia, perubahan muka air Danau Toba merupakan hasil interaksi kondisi iklim dan aktivitas manusia. Karena itu, satu penyebab tunggal tidak cukup untuk menjelaskan dinamika danau tersebut.
Kepala PRIMA BRIN Albertus Sulaiman menilai riset ini dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengelolaan yang lebih tepat. Pengaturan pemanfaatan air dan tata guna lahan perlu berjalan bersamaan untuk menjaga fungsi ekologis, sosial, serta ekonomi Danau Toba.






