Gugatan Membayangi ChatGPT Health, AI Kini Bisa Memakai Rekam Medis Pengguna

Perluasan ChatGPT Health di Amerika Serikat berlangsung ketika OpenAI menghadapi gugatan yang menyoroti risiko saran kesehatan dari chatbot. Fitur baru ini dapat memakai rekam medis dan data pribadi pengguna untuk membuat respons yang lebih personal.

Dua perkara yang disebut dalam gugatan tersebut menempatkan saran chatbot sebagai persoalan serius. Penggugat meminta kompensasi, aturan lebih ketat, hingga penghentian peluncuran ChatGPT Health.

Dua gugatan menyoroti saran kesehatan

Salah satu gugatan diajukan keluarga seorang remaja berusia 19 tahun yang meninggal akibat overdosis. ChatGPT dituduh menyarankan Xanax untuk meredakan efek kratom sebelum korban meninggal.

Keluarga tersebut menduga kombinasi Xanax dan zat herbal kratom menjadi penyebab kematian korban. Mereka menuntut ganti rugi serta penghentian peluncuran ChatGPT Health.

Perkara lain melibatkan seorang pendeta di Florida yang mengalami gejala emboli paru. Ia mengaku chatbot tidak menyarankannya segera mencari pertolongan di rumah sakit.

Menurut pengakuannya dalam gugatan, ChatGPT justru memberi jawaban bernada motivasi agar ia tetap percaya tubuhnya dapat pulih. Tuntutan dalam kasus ini mencakup penghentian sementara fitur, kompensasi finansial, dan pengaturan yang lebih ketat.

KasusTuduhan terhadap ChatGPTTuntutan
Keluarga remaja 19 tahunDiduga menyarankan Xanax untuk meredakan efek kratom sebelum korban meninggal akibat overdosis.Ganti rugi dan penghentian peluncuran ChatGPT Health.
Pendeta di FloridaDiduga membuatnya menunda pertolongan medis saat mengalami gejala emboli paru.Penghentian sementara fitur, kompensasi, dan aturan lebih ketat.

Rekam medis menjadi bagian percakapan

Di tengah sorotan tersebut, OpenAI memperluas akses ChatGPT Health bagi pengguna berusia 18 tahun ke atas di AS. Peluncuran dilakukan setelah fitur itu lebih dulu diuji kepada kelompok pengguna terbatas dan menerima masukan dari mereka.

Dengan persetujuan pengguna, ChatGPT dapat mengakses hasil pemeriksaan medis, pola aktivitas, serta data yang tersimpan di Apple Health. Informasi itu dapat dipakai sebagai konteks, termasuk ketika percakapan tidak secara khusus membahas kesehatan.

Sistem, misalnya, dapat mempertimbangkan pantangan makanan saat pengguna meminta rekomendasi restoran. Chatbot juga dapat menyarankan kegiatan akhir pekan yang lebih ringan jika mengetahui pengguna baru mengalami cedera.

Pengguna tetap dapat mengajukan pertanyaan lanjutan, menambahkan konteks, atau membetulkan data yang tidak lengkap dan sudah lawas. Kendali ini penting karena informasi kesehatan yang diizinkan dapat memengaruhi saran yang muncul.

Menurut tekno.kompas.com, menu ChatGPT Health ditempatkan di bilah sisi kiri versi web dan seluler, di antara Library dan Codex. Aksesnya masih terbatas di AS sehingga belum tersedia untuk pengguna di Indonesia.

Peringatan dari OpenAI

Bagi pengguna berbayar, layanan ini menggunakan GPT-5.6 Sol yang disebut OpenAI sebagai model paling mumpuni untuk pertanyaan terkait kesehatan. OpenAI juga menyatakan lebih dari 300 juta pengguna ChatGPT setiap pekan memakai chatbot untuk mencari informasi atau bertanya soal kesehatan.

Namun, perusahaan mengakui jawaban AI tidak selalu benar. “Kami mendorong pengguna untuk memverifikasi informasi penting dan mendiskusikan keputusan medis dengan penyedia layanan kesehatan mereka,” ujar OpenAI.

Peringatan tersebut menegaskan bahwa personalisasi tidak menjadikan chatbot sebagai pengganti tenaga kesehatan profesional. Perluasan ChatGPT Health kini berjalan bersamaan dengan tuntutan agar penggunaan AI untuk informasi medis diawasi lebih ketat.

Baca Juga