Ganjil genap Jakarta kembali diterapkan mulai Selasa, 18 Agustus 2026, setelah sebelumnya ditiadakan saat peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Pengendara kendaraan pribadi perlu kembali mencocokkan angka terakhir pelat dengan tanggal sebelum memasuki ruas yang dibatasi.
Kesalahan memilih jalur pada waktu pemberlakuan dapat berujung tilang dengan denda maksimal Rp500.000. Ketentuan itu membuat pemeriksaan jadwal perjalanan menjadi sama pentingnya dengan pengecekan rute.
Waktu yang Perlu Diwaspadai Pengendara
Penerapan pembatasan berlangsung dua kali dalam sehari. Sesi pagi berlaku pukul 06.00 WIB sampai 10.00 WIB, ketika pergerakan kendaraan menuju berbagai kawasan Jakarta meningkat.
Pada sore hingga malam, pembatasan dimulai pukul 16.00 WIB dan berakhir pukul 21.00 WIB. Kendaraan dengan angka pelat yang tidak sesuai tanggal sebaiknya menghindari ruas terkait selama dua periode tersebut.
Aturan ini membatasi kendaraan pribadi berdasarkan angka terakhir pada pelat nomor. Pengendara dapat menyesuaikan waktu keberangkatan di luar jam pembatasan apabila nomor pelat tidak sesuai dengan tanggal kalender.
Sanksi Maksimal Rp500.000
Pelanggaran terhadap ketentuan ganjil genap mengacu pada Pasal 287 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sanksi yang dapat dikenakan berupa denda maksimal Rp500.000 melalui tilang.
Ketentuan tersebut berlaku bagi kendaraan yang tetap memasuki kawasan terbatas pada waktu yang telah ditentukan. Pengemudi perlu memastikan jalurnya tidak termasuk dalam koridor pembatasan sebelum perjalanan dimulai.
Ruas Jalan dalam Cakupan Pembatasan
Menurut Kompas Otomotif, pemberlakuan kembali ganjil genap mencakup 25 ruas jalan utama. Daftar ini meliputi koridor dengan volume lalu lintas tinggi di sejumlah kawasan Jakarta.
| No. | Ruas Jalan |
|---|---|
| 1 | Jalan Pintu Besar Selatan |
| 2 | Jalan Gajah Mada |
| 3 | Jalan Hayam Wuruk |
| 4 | Jalan Majapahit |
| 5 | Jalan Medan Merdeka Barat |
| 6 | Jalan MH Thamrin |
| 7 | Jalan Jenderal Sudirman |
| 8 | Jalan Sisingamangaraja |
| 9 | Jalan Panglima Polim |
| 10 | Jalan Fatmawati, dari Simpang Jalan Ketimun sampai Jalan TB Simatupang |
| 11 | Jalan Suryopranoto |
| 12 | Jalan Balikpapan |
| 13 | Jalan Kyai Caringin |
| 14 | Jalan Tomang Raya |
| 15 | Jalan Jenderal S Parman |
| 16 | Jalan Gatot Subroto |
| 17 | Jalan MT Haryono |
| 18 | Jalan HR Rasuna Said |
| 19 | Jalan D.I Pandjaitan |
| 20 | Jalan Jenderal A. Yani |
| 21 | Jalan Pramuka |
| 22 | Jalan Salemba Raya sisi Barat, dari Simpang Jalan Paseban Raya sampai Diponegoro |
| 23 | Jalan Kramat Raya |
| 24 | Jalan Stasiun Senen |
| 25 | Jalan Gunung Sahari |
Beberapa titik dalam daftar tidak berlaku untuk seluruh panjang jalan. Jalan Fatmawati dibatasi dari Simpang Jalan Ketimun sampai Jalan TB Simatupang, sedangkan Jalan Salemba Raya berlaku pada sisi barat dari Simpang Jalan Paseban Raya hingga Diponegoro.
Pengendara yang melintasi Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Medan Merdeka Barat, atau Jalan Majapahit juga perlu mencermati jam perjalanan. Koridor lain seperti Jalan Jenderal S Parman, Jalan D.I Pandjaitan, Jalan Jenderal A. Yani, dan Jalan Pramuka turut masuk cakupan.
Pilihan paling aman bagi pelat yang tidak sesuai adalah menunda perjalanan hingga di luar jam pembatasan atau menghindari 25 ruas tersebut. Pengecekan angka pelat, waktu, dan jalur sebelum berangkat dapat membantu mencegah pelanggaran lalu lintas.






