Pendapatan berbasis komisi PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk mencapai Rp121 miliar pada semester I-2026. Pencapaian tersebut tumbuh 7,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp112 miliar.
Kinerja pendapatan nonbunga BWS terutama ditopang transaksi valuta asing dan komisi penyaluran kredit. Kedua lini ini mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan fee based income secara keseluruhan.
Valuta Asing dan Kredit Menjadi Penggerak
Keuntungan transaksi valuta asing BWS meningkat 26 persen menjadi Rp40 miliar pada semester I-2026. Layanan treasury juga termasuk dalam lini yang mendukung kenaikan pendapatan berbasis komisi perseroan.
Komisi kredit tumbuh 32 persen hingga mencapai Rp24 miliar. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan upaya BWS untuk menambah sumber pendapatan di luar bunga dari penyaluran kredit.
| Pos Pendapatan | Nilai Semester I-2026 | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Fee based income | Rp121 miliar | 7,4 persen |
| Keuntungan transaksi valuta asing | Rp40 miliar | 26 persen |
| Komisi kredit | Rp24 miliar | 32 persen |
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis menilai capaian ini menandakan strategi diversifikasi pendapatan BWS mulai efektif. Bisnis berbasis komisi dinilai berpotensi memberikan sumber pertumbuhan yang lebih stabil dalam jangka panjang.
“Pertumbuhan fee based income menjadi indikator positif karena mencerminkan makin luasnya sumber pendapatan bank. Ketika diikuti dengan kenaikan CASA dan efisiensi operasional, kualitas laba menjadi lebih baik dan lebih berkelanjutan,” ujar Abdul Azis pada Jumat (14/8/2026).
Dana Murah Menguat di Tengah Persaingan Likuiditas
Pertumbuhan pendapatan komisi terjadi saat struktur pendanaan BWS juga membaik. CASA meningkat 7,49 persen menjadi Rp8,46 triliun dari Rp7,87 triliun pada akhir 2025.
Kenaikan dana murah mengerek rasio CASA terhadap DPK menjadi 28,72 persen. Rasio tersebut sebelumnya berada pada level 23,11 persen.
Menurut Abdul Azis, proporsi dana murah yang meningkat memberi fleksibilitas bagi BWS untuk menjaga margin bunga bersih. Faktor itu penting ketika persaingan untuk menghimpun likuiditas di industri perbankan masih berlangsung ketat.
| Indikator Kinerja | Posisi Terkini | Pembanding |
|---|---|---|
| CASA | Rp8,46 triliun | Rp7,87 triliun pada akhir 2025 |
| Rasio CASA terhadap DPK | 28,72 persen | 23,11 persen |
| NIM | 3,3 persen | 3,29 persen |
| ROE | 11,52 persen | 1,43 persen |
Kredit dan Profitabilitas Meningkat
Hingga akhir Juni 2026, kredit BWS tercatat Rp40,34 triliun. Dana Pihak Ketiga yang dihimpun perseroan pada periode tersebut mencapai Rp29,46 triliun.
Perbaikan efisiensi terlihat dari ROA yang naik menjadi 0,87 persen dari 0,38 persen. ROE juga menguat menjadi 11,52 persen dari 1,43 persen pada periode sebelumnya.
NIM BWS tetap terjaga pada level 3,3 persen, naik tipis dari 3,29 persen. Penguatan transaksi valuta asing, komisi kredit, dana murah, dan indikator profitabilitas menunjukkan pendapatan BWS semakin ditopang oleh beragam lini usaha.






