Mudah Lelah di Tangga Stadion, Perjuangan Fajar Listiyantoro Berakhir dalam Duka

Rasa mudah lelah saat menaiki tangga stadion menjadi keluhan awal yang dirasakan Fajar Listiyantoro sebelum penyakit ginjalnya diketahui. Mantan pemain PSS dan PSIM itu kemudian harus menjalani cuci darah rutin hingga akhirnya meninggal dunia.

Kepergian Fajar membawa duka bagi sepak bola Yogyakarta. Ia dikenal sebagai mantan pemain dengan spesialisasi lemparan ke dalam jarak jauh dan sebagai pelatih di SSB Potorono U-15.

Keluhan Saat Menonton PSS dan PSIM

Fajar pernah merasakan tubuhnya tidak lagi sekuat sebelumnya ketika hendak menyaksikan pertandingan PSS maupun PSIM. Aktivitas menaiki tangga stadion membuatnya cepat terengah-engah.

Pada 7 Juli 2026, Fajar mengungkapkan keluhan yang membuatnya merasa perlu memperhatikan kondisi kesehatannya. Ia menilai rasa lelah tersebut sebagai tanda bahwa ada masalah pada tubuhnya.

“Awalnya saya merasa sudah gampang capek. Misalnya pas Sleman main saya lihat, atau PSIM main, kan naik tangga itu. Nah, sampai atas sudah menggos-menggos. Saya merasa memang ada yang enggak beres,” ujar Fajar.

Setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, kadar kreatinin dan ureumnya diketahui meningkat drastis. Tekanan darahnya juga melonjak dan dokter menyarankan agar ia segera menjalani hemodialisis.

WaktuHasil dan Keterangan
14 MaretPemeriksaan menunjukkan peningkatan drastis kadar kreatinin dan ureum serta tekanan darah yang melonjak.
7 Juli 2026Fajar menceritakan dirinya mudah lelah ketika menaiki tangga stadion untuk menonton laga PSS atau PSIM.

Perawatan Mengubah Aktivitas Harian

Cuci darah rutin kemudian menjadi bagian dari perjuangan Fajar menghadapi gangguan ginjal. Perawatan itu membuat aktivitas hariannya berubah drastis, termasuk dalam kegiatan di lapangan sepak bola.

Ia sebelumnya masih aktif sebagai pelatih SSB Potorono U-15. Namun, jadwal hemodialisis membuat Fajar harus menepi dari tugas membina pemain muda.

Bola.com melaporkan bahwa Fajar bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit selama kurang lebih lima bulan terakhir. Perawatan tersebut berlangsung ketika ia berjuang menghadapi kondisi ginjal yang memburuk.

Karier dan Kontribusi untuk Yogyakarta

Sebelum aktif melatih, Fajar dikenal melalui kiprahnya sebagai pemain PSS dan PSIM. Spesialisasi lemparan ke dalam jarak jauh menjadi salah satu ciri permainannya.

Keterlibatannya sebagai pelatih menunjukkan bahwa Fajar tetap melanjutkan kontribusi setelah masa bermain. SSB Potorono U-15 menjadi tempatnya membantu pembinaan pemain muda sebelum kesehatan tidak lagi memungkinkan.

Wafatnya Fajar menjadi kehilangan bagi komunitas sepak bola Yogyakarta yang mengikuti perjalanan kariernya. Ia dikenang melalui pengalaman bersama PSS dan PSIM, serta upayanya membina pesepak bola usia muda.

Perjuangan melawan penyakit ginjal menjadi bagian penting dari masa terakhir hidupnya. Duka atas kepergiannya juga menyertai kenangan tentang sosok yang tetap dekat dengan sepak bola hingga kondisi kesehatannya membatasi aktivitasnya.

Baca Juga