Donald Trump dijadwalkan menghadiri prosesi pemulangan jenazah empat anggota layanan Amerika yang gugur di Pangkalan Angkatan Udara Dover pada Rabu. Agenda itu berlangsung ketika unggahan Trump mengenai 18 kematian tentara AS dalam konflik Iran sedang menuai kecaman.
Kritik muncul karena grafik yang diunggah Trump dinilai membandingkan korban perang dengan cara yang tidak menghormati prajurit dan keluarga mereka. Empat anggota layanan tersebut tewas setelah serangan Iran ke pangkalan AS di Yordania dan Irak.
Unggahan yang Mengundang Penolakan
Trump mengunggah grafik di Truth Social pada Selasa malam untuk membandingkan sejumlah perang yang melibatkan AS. Unggahan itu memuat durasi konflik dan jumlah tentara AS yang tewas, disertai pernyataan, “Ini fakta yang sebenarnya.”
Grafik tersebut mencatat 18 kematian personel AS dalam Konflik Militer Iran. Jumlah itu diletakkan berdampingan dengan angka korban dalam perang Vietnam, Korea, Irak, Afghanistan, serta perang Venezuela.
| Konflik | Durasi | Tentara AS Tewas |
|---|---|---|
| Perang Vietnam | 19 tahun | 58.220 |
| Perang Korea | 3 tahun | 36.574 |
| Perang Irak | 9 tahun | 4.600 |
| Perang Afghanistan | 20 tahun | 2.000 |
| Konflik Militer Iran | Tidak dicantumkan | 18 |
| Perang Venezuela | 1 hari | 0 |
Melalui perbandingan itu, korban tewas dalam konflik Iran tampak lebih rendah daripada perang-perang besar terdahulu. Namun, unggahan tersebut tidak menghapus perhatian pada prajurit yang terluka dan korban sipil yang terdampak perang.
Kritik dari Tokoh Politik
Mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, menyebut unggahan itu sebagai tindakan yang tidak sensitif. Dalam unggahan di X, ia menulis, “Trump membual tentang pembunuhan 18 tentara AS. Begitulah cara saya membaca unggahan bodoh ini.”
Greene juga mempertanyakan gambaran Trump sebagai “presiden perdamaian” ketika konflik terus memakan korban. Gubernur California Gavin Newsom dari Partai Demokrat turut menilai unggahan tersebut tidak menghormati prajurit.
Anggota DPR Jason Crow dari Colorado mengatakan kepada CNN bahwa setiap nyawa sangat berarti bagi keluarga yang ditinggalkan. Menurutnya, cara pandang yang terlihat dalam unggahan itu menunjukkan persoalan serius dalam kepemimpinan pada masa perang.
Skala Dampak Konflik
Pentagon mencatat sekitar 500 personel mengalami luka-luka, sebagaimana dilaporkan mediaindonesia.com. The New York Times juga melaporkan dugaan bahwa pemerintahan Trump menahan informasi mengenai puluhan cedera lain.
Korban di Iran disebut lebih besar, dengan sedikitnya 3.000 orang tewas sejak perang pecah pada akhir Februari berdasarkan data pemerintah Iran yang dikutip NPR. Sebanyak 168 anak-anak termasuk dalam angka kematian tersebut.
Konflik itu juga telah menghabiskan biaya lebih dari Rp584 triliun atau US$37 miliar bagi Washington, menurut Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Pemerintah meminta tambahan anggaran Rp1.058 triliun atau US$67 miliar kepada Kongres.
Jalur Diplomasi yang Kembali Buntu
Harapan meredakan perang sempat muncul melalui penandatanganan kerangka perdamaian atau MoU pada 17 Juni. Kesepakatan itu runtuh setelah serangan berlanjut, terutama di sekitar Selat Hormuz.
Trump menyatakan gencatan senjata berakhir pada akhir Juni setelah Iran menembaki kapal-kapal di jalur tersebut. Marco Rubio mengatakan Iran memberi isyarat ingin bernegosiasi, tetapi serangan rudal dan drone ke kapal menjadi alasan AS melanjutkan serangan balasan.
Hingga Selasa malam, AS dilaporkan telah menyerang Iran selama sepuluh malam berturut-turut. Prosesi di Dover akan menjadi upacara ketiga sejak perang dimulai.






