Lebih dari 107 ribu hektare area di Indonesia terdampak kebakaran hutan dan lahan hingga awal Agustus 2026. Luasan tersebut menegaskan besarnya risiko saat kondisi kering bertemu dengan sumber penyulut api di lapangan.
El Nino kuat menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat pengeringan vegetasi dan biomassa di permukaan. Material yang kehilangan kelembapan akan lebih mudah menyala serta membuat api berpotensi merambat lebih cepat.
Cuaca Kering Menambah Tekanan Pengendalian Api
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menyatakan El Nino kuat diperkirakan berlangsung hingga awal Oktober. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah karena dapat mempercepat perambatan api di kawasan rentan.
Guru Besar Kehutanan IPB University Bambang Hero Sajarjo menilai El Nino merupakan salah satu pemicu kebakaran, tetapi bukan faktor utama. Fenomena tersebut berperan mempercepat pengeringan biomassa sehingga bahan yang dapat terbakar di permukaan bertambah.
Bambang menekankan bahwa pengendalian kebakaran tetap harus dilakukan, baik ada maupun tidak ada El Nino. Ia menyatakan, “Sejatinya ada El Nino atau tidak, kegiatan pengendalian kebakaran wajib dilakukan karena akan berdampak sangat buruk terhadap manusia dan lingkungannya.”
Risiko kebakaran meningkat ketika bahan bakar yang telah mengering bertemu sumber api. Karena itu, pencegahan perlu diperkuat sebelum api muncul, terutama di daerah yang mengalami kemarau panjang.
Indikator Laut Memperkuat Ancaman Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG melihat indikasi El Nino kuat dari anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik timur. Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Linda Fitrotul menyebut anomali di wilayah Nino 3.4 telah berada di atas positif 2 derajat Celsius.
El Nino dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering di berbagai wilayah Indonesia. Dampaknya tidak berhenti pada kondisi cuaca, melainkan juga menjalar ke kebutuhan air masyarakat dan aktivitas pertanian.
| Indikator | Kondisi | Risiko Utama |
|---|---|---|
| El Nino | Anomali Nino 3.4 di atas +2 derajat Celsius | Curah hujan berkurang dan kemarau lebih kering |
| IOD | Indeks positif 0,63 | Pasokan uap air dari wilayah barat Indonesia berkurang |
| Biomassa kering | Material permukaan kehilangan kelembapan | Api lebih mudah menyala dan meluas |
BMKG juga mencatat indeks Indian Ocean Dipole atau IOD berada pada rentang positif 0,63. Kondisi di Samudra Hindia itu menunjukkan suplai air cenderung bergerak dari Indonesia bagian barat menuju pesisir timur Afrika.
Kombinasi perubahan di Pasifik dan Samudra Hindia berpotensi membuat musim kemarau lebih kering dibandingkan kondisi normal. Wilayah yang telah lama tidak menerima hujan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kekurangan air dan kebakaran.
Hari Tanpa Hujan Dapat Semakin Panjang
Linda Fitrotul menjelaskan bahwa El Nino kuat dapat memicu hari tanpa hujan yang lebih panjang. Situasi tersebut meningkatkan potensi kekeringan dan mengurangi ketersediaan air bagi pertanian maupun kebutuhan masyarakat.
Menurut Linda, kondisi kering membuat biomassa di permukaan lebih mudah terbakar saat terdapat sumber api. Ancaman kebakaran hutan dan lahan pun meningkat karena bahan bakar alami menjadi lebih cepat mengering.
Tekanan terhadap sektor pertanian dapat membesar ketika pasokan air menyusut dalam waktu panjang. Kebutuhan air sehari-hari masyarakat juga berisiko terganggu di daerah yang mengalami kemarau lebih kering.
El Nino tidak menghapus kewajiban pencegahan kebakaran di kawasan rawan. Pengelolaan bahan bakar permukaan dan pengendalian sumber api tetap menjadi langkah penting selama kondisi kering berlangsung.






