Ledakan investasi kecerdasan buatan global mendorong pemerintah Singapura menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 4,5 hingga 5,5 persen. Angka ini jauh melampaui perkiraan sebelumnya yang berada pada kisaran 2 hingga 4 persen.
Kenaikan proyeksi itu membawa sisi lain yang perlu diperhatikan. Ketergantungan yang semakin besar pada belanja modal AI dapat menjadi titik lemah apabila investasi teknologi tersebut kehilangan momentum.
Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura atau MTI mengumumkan proyeksi terbaru pada Selasa, 11 Agustus 2026. Ini merupakan kenaikan proyeksi kedua sepanjang tahun setelah estimasi awal 1 hingga 3 persen dinaikkan menjadi 2 hingga 4 persen pada Februari.
Menurut MTI, lonjakan permintaan global terhadap perangkat serta infrastruktur penunjang AI berlangsung lebih kuat daripada perkiraan sebelumnya. Kondisi itu menjadi dorongan signifikan bagi produksi dan ekspor produk terkait AI di sejumlah negara.
Ekspor Elektronik Menguat Tajam
Permintaan terhadap sirkuit terintegrasi, produk penyimpanan data, dan perangkat keras pendukung sistem AI mengangkat kegiatan elektronik Singapura. Dampaknya juga terasa pada perdagangan grosir yang menjual mesin, peralatan, dan perlengkapan teknologi.
Ekspor domestik non-minyak mencatat pertumbuhan 27,4 persen secara tahunan pada kuartal kedua 2026. Laju tersebut meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan 9,6 persen pada kuartal pertama.
| Indikator | Kuartal I 2026 | Kuartal II 2026 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB tahunan | 6,3 persen | 5,9 persen |
| Pertumbuhan ekspor domestik non-minyak | 9,6 persen | 27,4 persen |
Produk domestik bruto Singapura tumbuh 5,9 persen secara tahunan pada kuartal kedua 2026. Capaian tersebut memang lebih rendah dari 6,3 persen pada kuartal pertama, tetapi tetap melampaui estimasi awal pemerintah sebesar 5,7 persen.
Angka pertumbuhan itu juga berada di atas median perkiraan survei Bloomberg yang sebesar 5,8 persen. Sepanjang semester pertama 2026, ekonomi Singapura tercatat tumbuh 6,1 persen secara tahunan.
Investasi Mengalir di Rantai Pasok AI
Penguatan sektor teknologi terlihat dari rencana ekspansi dan pendanaan yang bergerak di rantai pasok AI. SK Hynix disebut berencana memperluas pabrik memori dengan nilai 38 miliar dollar AS.
Di sisi lain, DayOne, perusahaan infrastruktur AI asal Singapura, menghimpun pendanaan senilai 2 miliar dollar AS. Arus modal tersebut mencerminkan tingginya perhatian investor terhadap kebutuhan komputasi dan penyimpanan data.
Manufaktur menjadi salah satu sektor yang menopang pertumbuhan kuartal kedua, bersama perdagangan grosir serta jasa keuangan dan asuransi. Ketiga sektor itu memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas teknologi dan perdagangan lintas negara.
Risiko Tetap Membayangi
MTI mengingatkan prospek ekonomi yang kuat masih dibayangi sejumlah tekanan global. Konflik di Timur Tengah, tambahan tarif Amerika Serikat, dan kemungkinan perubahan sikap investor terhadap belanja AI dapat menahan laju pertumbuhan.
Dampak konflik Timur Tengah sejauh ini lebih ringan dari perkiraan awal karena penarikan cadangan minyak serta peralihan ke sumber energi alternatif. Namun, ketegangan yang berkepanjangan berpotensi menjaga harga energi dan bahan baku utama tetap tinggi pada semester kedua.
Otoritas Moneter Singapura atau MAS memasukkan keberlanjutan investasi AI sebagai salah satu risiko utama bagi ekonomi. MAS memperketat kebijakan moneter pada akhir Juli setelah menaikkan proyeksi inflasi inti dan inflasi 2026 menjadi 1,5 hingga 2,5 persen pada April.
Inflasi tahunan Singapura pada Juni berada di level 1,6 persen. Pemerintah juga menyiapkan paket bantuan 900 juta dollar Singapura untuk pelaku usaha dan rumah tangga yang menghadapi biaya energi tinggi.
Paket tersebut menyusul bantuan hampir 1 miliar dollar Singapura yang telah disiapkan pada April. Namun, tidak semua sektor menikmati dorongan AI karena jasa makanan dan minuman justru mengalami kontraksi.
Kontraksi sektor makanan dan minuman dikaitkan dengan berkurangnya kunjungan wisatawan serta meningkatnya jumlah warga Singapura yang bepergian ke luar negeri. Kondisi ini menunjukkan pemulihan ekonomi masih berjalan tidak merata di berbagai sektor.
AMRO memperkirakan sekitar separuh perdagangan AI global melewati kawasan ASEAN+3. Lembaga tersebut memperingatkan pertumbuhan kawasan dapat melambat menjadi 2,5 persen pada 2027 jika investasi AI global kembali melambat ke laju 2024.






