Danantara Indonesia menargetkan pengurangan hingga penghapusan uang muka atau DP untuk pembelian motor listrik. Rencana itu disertai penyediaan bunga yang lebih rendah dan tenor pembiayaan yang lebih panjang.
Skema tersebut menjadi perhatian karena DP masih disebut berada di kisaran 10 persen. Kemudahan pembiayaan diharapkan dapat mengatasi salah satu hambatan awal masyarakat saat ingin membeli motor listrik.
Adopsi Masih Jauh dari Pasar Motor Konvensional
Peluang pertumbuhan motor listrik dinilai masih sangat besar jika melihat jumlah kendaraan roda dua di Indonesia. Populasi motor nasional sudah berada di sekitar 140 juta unit, sedangkan pembelian motor baru setiap tahun mencapai 6 juta hingga 7 juta unit.
Di sisi lain, pembelian motor listrik baru berada pada kisaran 60.000 sampai 70.000 unit per tahun. Jumlah tersebut setara sekitar 1 persen dari total pasar motor baru tahunan.
| Indikator | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Populasi motor nasional | ±140 juta unit | Pasar roda dua Indonesia |
| Penjualan motor baru tahunan | 6-7 juta unit | Potensi peralihan kendaraan |
| Penyerapan motor listrik | ±60-70 ribu unit | Sekitar 1 persen dari pasar tahunan |
| Cadangan nikel Indonesia | ±46 persen dunia | Bahan baku baterai berbasis nikel |
CEO Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menilai pembiayaan yang lebih ringan diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan pasar. Danantara juga menyebut nilai pasar motor listrik berpotensi mencapai US$170 miliar.
Pembelian 20.000 Unit dari James Riady
Dorongan pembiayaan tersebut hadir beriringan dengan komitmen pembelian dalam jumlah besar dari James Riady. Rosan menyebut James Riady dari Grup Lippo telah menyampaikan rencana membeli 20.000 motor listrik.
“Yang mempunyai lahan Pak James Riady dari Lippo yang tadi sempat bicara komitmen untuk beli 20.000 motor listrik,” kata Rosan. Komitmen itu disampaikan saat peresmian Motor Listrik Nasional atau Molinas di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (13/8).
Pembelian dalam skala besar dapat memberi dukungan terhadap penyerapan produk roda dua listrik buatan dalam negeri. Permintaan yang lebih kuat juga relevan bagi produsen yang sedang membangun kapasitas manufaktur dan jaringan layanan.
Ekosistem Tidak Hanya Produksi Kendaraan
Menurut CNN Indonesia, Molinas diresmikan di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group atau ALVA. Inisiatif ini dirancang melalui kolaborasi pemerintah, badan usaha milik negara, dan pengusaha nasional.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan ekosistem Molinas meliputi industri manufaktur dan pengembangan komponen. Cakupannya juga mencakup baterai, infrastruktur pengisian daya, battery swapping, pembiayaan, distribusi, dan layanan purnajual.
PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator untuk menyatukan berbagai kebutuhan dalam ekosistem tersebut. Peran itu mencakup penguatan rantai pasok hingga upaya memperbesar penyerapan produk di pasar domestik.
Sekitar 10 perusahaan nasional telah memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri dari Kementerian Perindustrian. CTO Danantara Sigit Puji Santosa memimpin proyek Molinas untuk mendorong penerapan standardisasi internasional.
Nikel untuk Rantai Baterai Domestik
Danantara turut mengarahkan pengembangan motor listrik pada penggunaan baterai berbasis nikel. Strategi ini mencakup pengolahan nikel menjadi sel baterai dan battery pack untuk kebutuhan kendaraan listrik.
Rosan menyatakan Indonesia memiliki sekitar 46 persen cadangan nikel dunia. Pemanfaatan bahan baku dalam negeri diharapkan dapat memperkuat industri baterai sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor.
Target penghapusan DP, komitmen pembelian 20.000 unit, dan pengembangan rantai baterai memperlihatkan upaya memperkuat permintaan serta pasokan secara bersamaan. Hasilnya tetap akan ditentukan oleh kesiapan manufaktur, infrastruktur, distribusi, dan layanan purnajual bagi pengguna motor listrik.






