Dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi menjadi faktor penentu arah emas pada pekan depan. Keduanya dapat bergerak setelah pasar mencerna risalah FOMC serta serangkaian indikator ekonomi Amerika Serikat.
Emas sebelumnya menguat hingga menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni. Penguatan itu terjadi setelah data inflasi dan belanja konsumen AS memberi sinyal pelemahan, sehingga perkiraan kenaikan suku bunga berkurang.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini diperkirakan sekitar 31%. Angka itu lebih rendah dibandingkan sekitar 55% pada sepekan sebelumnya.
Risiko Penguatan Dolar Masih Terbuka
Emas dapat memperoleh dukungan bila pasar semakin yakin suku bunga akan dipertahankan. Suku bunga yang stabil atau lebih rendah biasanya menekan imbal hasil obligasi dan dolar AS, lalu meningkatkan minat terhadap logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Namun, penguatan emas tidak berlangsung tanpa risiko. Data ekonomi yang kuat dapat menghidupkan kembali spekulasi kenaikan suku bunga, terutama bila laporan tersebut juga memberi sinyal inflasi meningkat.
Risiko tekanan juga akan meningkat apabila dolar AS dan imbal hasil obligasi menguat seusai rilis data. Karena itu, pasar akan memantau reaksi kedua instrumen tersebut setelah setiap laporan penting diterbitkan.
Risalah FOMC pada Rabu
Perhatian utama pasar akan mengarah ke risalah rapat FOMC pada 28-29 Juli yang dijadwalkan terbit Rabu, 19 Agustus 2026. Dokumen ini akan memperlihatkan pandangan pejabat The Fed mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan suku bunga selanjutnya.
Risalah bernada dovish dapat menjadi katalis bagi harga emas. Investor Daily menyebut pandangan mayoritas pejabat yang nyaman mempertahankan suku bunga berpotensi memberi sentimen positif bagi logam mulia tersebut.
Sebaliknya, risalah yang memperlihatkan kecenderungan hawkish dapat membebani emas. Sikap pengetatan kebijakan berpeluang menopang dolar AS dan imbal hasil obligasi.
Rangkaian Data Ekonomi AS
Rangkaian agenda pekan depan mencakup laporan manufaktur, perumahan, pasar tenaga kerja, serta aktivitas sektor swasta. Data-data itu akan membantu investor menilai apakah ekonomi AS masih cukup kuat menghadapi tingkat suku bunga tinggi.
| Tanggal | Rilis Utama | Aspek yang Dinilai |
|---|---|---|
| 17 Agustus 2026 | New York Empire State Manufacturing Index | Aktivitas manufaktur |
| 18 Agustus 2026 | Housing Starts, Building Permits, Pending Home Sales | Kondisi perumahan |
| 20 Agustus 2026 | Klaim pengangguran dan Philadelphia Fed Manufacturing Index | Tenaga kerja dan manufaktur |
| Jumat | Flash S&P Global Composite PMI | Aktivitas sektor swasta Agustus |
New York Empire State Manufacturing Index pada Senin akan menjadi pembuka bagi agenda tersebut. Selasa kemudian diisi tiga laporan perumahan, yakni Housing Starts, Building Permits, dan Pending Home Sales.
Perumahan menjadi sektor yang penting karena sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga. Pelemahan aktivitas perumahan dapat memperkuat pandangan bahwa The Fed akan menahan suku bunga, sedangkan angka kuat menunjukkan ekonomi masih tahan terhadap biaya pinjaman tinggi.
Kamis akan menghadirkan data klaim pengangguran mingguan dan Philadelphia Fed Manufacturing Index. Pada Jumat, Flash S&P Global Composite PMI akan memberikan pembacaan awal terhadap aktivitas sektor swasta AS selama Agustus.
Perak juga berada dalam perhatian pasar setelah bertahan di atas US$ 64 per ons troi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Perkembangannya sejalan dengan fokus investor terhadap perlambatan ekonomi dan arah imbal hasil obligasi AS.






