Cuka Panjang Umur Beraroma Ekstrem, Polisi Datangi Rumah Warga di Guangdong

Polisi memeriksa rumah Chen di Guangdong, China, setelah tetangganya mengira bau menyengat dari bangunan itu berasal dari mayat yang membusuk. Aroma yang menimbulkan laporan tersebut ternyata datang dari sup berbahan cuka panjang umur yang sedang dimasak.

Cuka beraroma ekstrem itu dikenal pula sebagai chopi cu atau cuka bau kentut. Sebutan tersebut muncul karena baunya yang sangat tajam, bukan karena ada persoalan kriminal di rumah Chen.

Setelah pemeriksaan, Chen membagikan kejadian itu melalui media sosial. “Tetangga saya mengira saya sedang memasak ‘mayat’,” tulis Chen, sebagaimana dikutip CNN Indonesia dari South China Morning Post.

Kejadian ini memperlihatkan bagaimana aroma pangan tradisional dapat diterjemahkan sangat berbeda oleh orang yang tidak mengenalnya. Bagi warga yang terbiasa menggunakannya, cuka tersebut merupakan bahan masak yang diwariskan antar generasi.

Hidangan untuk Pemulihan Setelah Melahirkan

Dalam tradisi keluarga di Guangdong, cuka panjang umur kerap dimasak bersama kaki babi, jahe, dan telur. Hidangan itu biasanya disiapkan menjelang persalinan agar tersedia untuk ibu pada masa nifas.

Masyarakat setempat percaya makanan tersebut membantu pemulihan tubuh setelah melahirkan. Penggunaan itu menjadikan cuka beraroma kuat ini memiliki peran budaya yang jauh melampaui fungsi bumbu biasa.

Cuka ini juga dipercaya dapat membantu merangsang nafsu makan, mendukung pencernaan, meredakan stasis darah, dan mendetoksifikasi tubuh. Untuk jenis yang berbau tajam, masyarakat setempat meyakini bahan itu dapat meredakan panas serta kelelahan pada musim panas.

Manfaat tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional yang menyertai penggunaan cuka di wilayah tersebut. Laporan mengenai kejadian Chen tidak memaparkan penjelasan medis untuk keyakinan tersebut.

Dari Beras Patah hingga Aroma Menyengat

Cuka tradisional Guangdong dibuat melalui fermentasi bahan berbasis beras. Di Huadu, Guangzhou, salah satu pewaris resmi pembuatannya, Huang Weihua, menggunakan beras patah sebagai bahan utama.

Beras tersebut ditumis dalam waktu lama hingga warnanya keemasan sebelum masuk ke tahap fermentasi. Cairan yang terbentuk setelah proses itu memiliki bau kuat yang menjadi ciri utama cuka tersebut.

TahapanRincian
Bahan bakuBeras patah
Penyiapan berasDitumis lebih dari 40 menit hingga berwarna keemasan
FermentasiDimasukkan ke toples berisi air selama tiga bulan

Proses itu menjelaskan mengapa bau cuka dapat begitu tajam saat digunakan memasak. Dalam ruang tertutup, aroma yang tidak biasa tersebut berpotensi memancing kecemasan bagi orang yang tidak memahami asalnya.

Tradisi pembuatan cuka ini masih dirawat di Huadu dan beberapa wilayah lain di Guangdong. Cuka tersebut telah diakui sebagai warisan budaya tak benda di sejumlah daerah.

Kisah Kerak Nasi dalam Tempayan

Keberadaan cuka panjang umur dikaitkan dengan legenda seorang pria miskin yang menyimpan kerak nasi untuk ibunya yang sakit. Atap rumahnya dikisahkan bocor, sehingga air hujan masuk dan merendam kerak nasi di dalam tempayan.

Kerak nasi tersebut kemudian berfermentasi dan mengeluarkan bau busuk. Dalam cerita yang beredar, bahan itu dimasak untuk sang ibu dan dipercaya membuatnya pulih setelah lama sakit.

Kisah itu menjadi salah satu latar yang menguatkan kepercayaan masyarakat terhadap cuka beraroma tajam ini. Di sisi lain, pengalaman Chen menunjukkan bahwa bau yang dianggap biasa dalam satu tradisi dapat memunculkan dugaan serius dalam lingkungan lain.

Sejumlah pengguna media sosial juga menceritakan pengalaman serupa setelah kejadian tersebut mencuat. Ada yang mengatakan bau cuka menempel di jari setelah memasak ceker ayam, sementara pengguna lain pernah mendapat teguran tetangga saat memasaknya di Shenzhen.

Reaksi itu menegaskan bahwa karakter tajam cuka bau kentut memang dapat menyebar dan mudah dikenali. Namun, di Guangdong, bahan tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan kuliner dan kebiasaan keluarga.

Baca Juga