China Tambah 19,9 Ton Emas Saat Pasar Menanti Harga Kembali ke US$ 5.300

People’s Bank of China menambah cadangan emas sebanyak 19,9 ton pada Juli 2026, melanjutkan pembelian selama 21 bulan berturut-turut. Akumulasi tersebut menjadi penopang penting ketika harga emas dunia mulai pulih dari koreksi hingga 18 persen.

Permintaan fisik bank sentral memberi dasar yang kuat bagi pasar di luar aktivitas perdagangan jangka pendek. Minat ini semakin relevan ketika investor kembali menghadapi tanda perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan risiko geopolitik.

Harga Pulih dari Penurunan Tajam

Emas sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5.300 per ons. Setelah mengalami koreksi yang cukup dalam, harga kembali menguat pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Rebound tersebut menunjukkan bahwa investor belum meninggalkan logam mulia meski pasar sempat menekan harganya. Ketidakpastian global masih membuat emas dipertahankan sebagai bagian dari strategi perlindungan nilai aset.

Pembelian Emas oleh China menjadi salah satu indikator yang dicermati karena terjadi secara berkelanjutan. Tren bank sentral Asia itu dipandang memberi dukungan permintaan fisik yang dapat menahan tekanan harga.

IndikatorNilaiKeterangan
Rekor harga emasDi atas US$ 5.300 per onsLevel tertinggi sebelumnya
Koreksi hargaHingga 18 persenTerjadi sebelum pemulihan
Pembelian PBoC Juli 202619,9 tonAkumulasi berlanjut 21 bulan
Harga minyak BrentUS$ 90 per barelTertahan oleh ketegangan Hormuz

Data Amerika Serikat Mendukung Minat Emas

Inflasi konsumen Amerika Serikat tercatat 0,1 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Angka ini mengurangi spekulasi pasar terhadap kenaikan suku bunga agresif dalam waktu dekat.

Pelemahan sektor ketenagakerjaan juga menahan ekspektasi terhadap pengetatan moneter. Dolar AS dan imbal hasil obligasi kemudian bergerak pada kisaran 3,50–3,75 persen, yang mendukung daya tarik emas.

Ketika imbal hasil aset berbunga tidak melonjak, biaya peluang memegang Harga Emas menjadi lebih rendah. Kondisi itu membantu menjelaskan mengapa emas kembali diminati setelah koreksi besar dari posisi puncaknya.

Belanja fiskal Amerika Serikat yang tinggi turut memperbesar perhatian pasar terhadap inflasi jangka panjang. Investor Daily menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi bagian dari kombinasi risiko yang memengaruhi keputusan investor.

Saham Tambang Menangkap Dampak Penguatan

Perusahaan tambang emas ikut memperoleh manfaat ketika harga emas fisik naik. Indeks saham sektor pertambangan mencatat kinerja mingguan terbaik sejak krisis keuangan 2008 seiring harapan margin produsen membaik.

AngloGold Ashanti dan Newmont disebut memiliki rasio Price-to-Earnings yang dinilai murah serta menawarkan dividen tinggi. Investor juga menggunakan GLD dan GLDM untuk akses likuiditas, sedangkan GDX dan GDXJ memberi paparan pada perusahaan tambang.

Ketidakpastian Kebijakan Moneter AS di bawah Ketua Dewan Gubernur The Fed Kevin Warsh masih akan diperhatikan pasar. Ketegangan di Selat Hormuz yang menjaga minyak Brent di US$ 90 per barel turut menambah risiko yang dapat menopang minat pada aset aman.

Pergerakan emas ke depan akan dipengaruhi inflasi, arah kebijakan The Fed, dan kelanjutan pembelian oleh bank sentral. Jika inflasi tetap moderat serta akumulasi emas Asia berlanjut, pasar menilai harga berpeluang kembali menembus rekor di atas US$ 5.300 per ons.

Baca Juga