Cukup Buka Email, Celah Zimbra Diduga Dipakai untuk Membidik Pengguna NATO

Pengguna layanan email Zimbra dapat menjadi korban pengambilalihan sistem hanya dengan membuka sebuah pesan. Serangan ini tidak memerlukan klik pada tautan berbahaya ataupun pembukaan lampiran.

Teknik tersebut menjadi perhatian karena mengurangi tanda-tanda yang biasanya membuat pengguna waspada. Perusahaan keamanan siber Proofpoint menyebut metode itu sebagai half-click exploit.

Menurut Proofpoint, pelaku memanfaatkan celah pada perangkat lunak Zimbra agar dapat masuk ke sistem saat pesan dibuka. Rekayasa sosial juga tidak diperlukan karena korban tidak perlu didorong untuk melakukan tindakan tambahan.

Sasaran Bergeser dari Ukraina

Kampanye ini mula-mula digunakan secara luas terhadap target di Ukraina. Setelah itu, pola serangan dilaporkan meluas ke pengguna di Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO.

Pergeseran sasaran tersebut memicu peringatan bersama dari lembaga kepolisian dan intelijen di sejumlah negara. Mereka mengaitkan kampanye mata-mata siber itu dengan kelompok yang dikenal sebagai Laundry Bear.

Menteri Keamanan Inggris Dan Jarvis menilai pola pengujian metode serangan di Ukraina sebelum membidik negara NATO sebagai perkembangan yang mengkhawatirkan. “Hal ini sangat mengkhawatirkan karena para preman ini menguji metode mereka pada korban di Ukraina sebelum menargetkan anggota NATO,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Peringatan dari Banyak Lembaga

Dokumen peringatan setebal 31 halaman itu melibatkan otoritas dari Amerika Serikat, Belanda, Kanada, Inggris, Australia, Selandia Baru, Denmark, Republik Ceko, serta sejumlah negara Eropa lainnya. Kolaborasi ini menunjukkan besarnya perhatian terhadap penggunaan email sebagai jalur masuk operasi pengumpulan intelijen digital.

CNBC Indonesia yang mengutip Reuters melaporkan bahwa kampanye tersebut memperlihatkan perpindahan fokus dari Ukraina menuju Amerika Serikat dan negara-negara NATO. Metode yang sebelumnya dipakai terhadap korban di Ukraina kini menjadi dasar kekhawatiran bagi target lain.

Celah keamanan yang digunakan dalam serangan itu disebut telah ditambal. Namun, kasus ini tetap menegaskan bahwa pembaruan sistem email perlu menjadi perhatian, terutama bagi organisasi yang mengelola komunikasi sensitif.

Kaitan dengan Yutek-NN

Laundry Bear merupakan salah satu kelompok peretas yang dituding Amerika Serikat bekerja untuk badan keamanan Rusia. Tuduhan yang diajukan AS pada bulan ini juga mengaitkan kelompok tersebut dengan perusahaan keamanan siber Rusia, Yutek-NN.

Wakil Direktur Yutek-NN, Denis Obrezko, menghadapi dakwaan terkait peretasan di Boston setelah ditangkap di Thailand tahun lalu. Ia telah menyatakan tidak bersalah atas dakwaan itu.

Kedutaan Besar Rusia di Washington belum segera memberikan tanggapan atas tudingan tersebut. Yutek-NN juga belum merespons permintaan komentar, sementara Moskow biasanya membantah keterlibatan dalam kampanye peretasan.

Zimbra dan pemiliknya, Synacor yang berbasis di Buffalo, New York, juga belum dapat segera dimintai komentar. Pada April, Reuters melaporkan peretas Rusia membobol sejumlah akun email jaksa dan penyidik di berbagai wilayah Ukraina, menambah konteks risiko terhadap komunikasi strategis.

Baca Juga