Reza Arap menyatakan masih menyimpan call sheet dan pembagian hari kerja produksi Harusnya Horor untuk membantah tudingan yang diarahkan kepadanya. Catatan tersebut disebut dapat menunjukkan bahwa tidak ada rencana memanfaatkan kepergian Lula Lahfah untuk promosi film.
Tudingan itu muncul setelah penghormatan Reza kepada Lula menjadi perbincangan. Ia menegaskan duka atas kepergian mendiang tidak pernah dijadikan bahan untuk mengglorifikasi kampanye film.
Dokumen Produksi Jadi Penegasan
Reza mengatakan dokumen terkait produksi masih tersimpan di telepon genggamnya. Arsip itu mencakup jadwal dan pembagian hari kerja yang berkaitan dengan proses pembuatan film.
Menurutnya, catatan tersebut dapat menjawab anggapan bahwa penghormatan kepada Lula dirancang sebagai strategi menarik penonton. Ia membedakan secara tegas antara pengakuan terhadap seorang pemeran dan kebutuhan promosi sebuah film.
Penjelasan itu disampaikan Reza dalam konferensi pers di kawasan Kuningan pada Kamis (13/8/2026). Personel Weird Genius tersebut menyatakan tetap pada pendiriannya meski menerima kritik dari sebagian warganet.
Kontroversi Kursi Kosong
Reaksi publik sebelumnya dipicu oleh penyediaan satu kursi khusus untuk Lula pada sesi nonton lebih awal Harusnya Horor. Kursi kosong itu diberikan Reza sebagai bentuk penghormatan pribadi kepada mendiang.
Gestur tersebut kemudian mendapat hujatan dan memunculkan pertanyaan mengenai niat di baliknya. Reza menolak anggapan bahwa tindakan itu merupakan gimmick untuk mengangkat perhatian terhadap film.
Bagi Reza, menghormati Lula berarti tidak meniadakan fakta bahwa ia tampil sebagai salah satu pemeran utama. Ia menilai akan terasa tidak tepat jika keberadaan Lula dalam proses produksi justru diabaikan.
Kontribusi yang Tidak Ingin Dihilangkan
Reza memandang keterlibatan Lula sebagai bagian dari dedikasi terakhirnya di layar lebar. Karena alasan itu, ia menyebut akan tetap merayakan peran Lula dalam Harusnya Horor.
Ia tidak ingin komentar yang mempertanyakan niatnya mengubah cara ia memberi pengakuan kepada mendiang. Dalam pandangan Reza, warisan Lula dalam film tersebut perlu tetap terlihat dan disebut secara wajar.
Sikap itu menempatkan penghormatan sebagai persoalan yang terpisah dari promosi. Reza mempertahankan pilihan untuk mengenang Lula tanpa menjadikan kepergiannya sebagai alat pemasaran.
Perdebatan mengenai kursi kosong pun tidak menggeser fokus Reza pada kontribusi Lula sebagai pemeran. Ia menilai pengakuan itu penting agar perjalanan produksi Harusnya Horor tidak dipahami secara terpotong.






