Pola pita terang dan gelap pada ekor seekor buaya purba berusia sekitar 125 juta tahun memberi petunjuk mengejutkan tentang sejarah corak tubuh kelompok buaya. Jejak tersebut diduga menyerupai belang yang masih terlihat pada anak buaya dan anak aligator modern.
Temuan ini penting karena fosil jarang menyimpan jaringan lunak yang cukup utuh untuk memperlihatkan tampilan hewan semasa hidupnya. Pada spesimen ini, ilmuwan dapat menelaah kulit, sisik, struktur tulang rawan, hingga kemungkinan pola warna.
Jejak Corak pada Ekor
Fosil itu berasal dari Montsecosuchus, reptil purba berukuran kurang dari satu meter yang ditemukan di timur laut Spanyol. Spesimen tersebut berasal dari Formasi La Pedrera de Meià dan telah dideskripsikan sejak 1915.
Pemeriksaan yang lebih baru kemudian membuka sejumlah informasi yang sebelumnya tidak tampak melalui pengamatan biasa. Media Indonesia, yang mengutip IFLScience, melaporkan para peneliti memakai sinar ultraviolet atau UV untuk menyingkap bagian jaringan yang masih terawetkan.
Cahaya UV memperlihatkan sisa kulit, susunan sisik, serta struktur tulang rawan pada fosil tersebut. Pada bagian ekor, pola terang dan gelap terlihat membentuk pita yang diduga merupakan belang.
Óscar Castillo-Visa, salah satu penulis penelitian, menilai pola garis pada ekor itu mungkin tidak hanya dimiliki Montsecosuchus. Namun, kemungkinan bahwa ciri tersebut telah muncul sejak awal pohon evolusi kelompok buaya masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.
Fosil ini tidak memastikan seluruh buaya purba mempunyai pola warna yang sama. Meski demikian, keberadaan jejak belang memperkuat kemungkinan bahwa sejumlah karakter visual kelompok buaya telah bertahan atau berkembang dalam rentang evolusi yang sangat panjang.
Perbedaan Sisik dan Jejak Sensorik
Jaringan lunak yang tersisa juga menunjukkan bahwa sisik Montsecosuchus tidak tersusun seragam di seluruh tubuhnya. Sisik pada lengan terlihat lebih kecil dibandingkan sisik pada kaki.
| Bagian Tubuh | Temuan | Makna yang Diduga |
|---|---|---|
| Lengan | Sisik berukuran lebih kecil | Menunjukkan variasi susunan sisik |
| Leher dan lengan | Struktur diduga organ sensorik | Petunjuk persebaran sensorik awal |
| Ekor | Tidak ada tonjolan memanjang di bagian atas | Memunculkan pertanyaan tentang kemampuan berenang |
Struktur yang diduga sebagai organ sensorik ditemukan pada leher dan lengan. Pada buaya modern, organ semacam itu dapat mendeteksi sentuhan, tekanan air, serta perubahan suhu.
Persebaran organ sensorik pada buaya masa kini hampir mencakup seluruh tubuh. Sementara itu, jejak struktur pada Montsecosuchus hanya terlihat di area tertentu, sehingga muncul dugaan bahwa sistem tersebut awalnya berkembang secara terbatas.
Dalam perjalanan evolusi berikutnya, organ sensorik itu diduga menyebar lebih luas di permukaan tubuh kelompok buaya modern. Penafsiran tersebut masih berupa dugaan yang bertumpu pada persebaran struktur yang terlihat pada fosil.
Adaptasi Air yang Masih Menjadi Misteri
Aspek lain yang menarik adalah ketiadaan tonjolan memanjang di atas ekor Montsecosuchus. Pada buaya modern, struktur tersebut umumnya membantu pergerakan ketika berenang.
Padahal, Montsecosuchus hidup di lingkungan yang hampir seluruhnya berupa perairan. Castillo-Visa menyebut kondisi itu membingungkan karena hewan kecil di lingkungan air tersebut justru tidak memiliki struktur yang lazim membantu proses berenang.
Salah satu kemungkinan, Montsecosuchus belum sepenuhnya beradaptasi sebagai perenang dan lebih sering bergerak di daratan. Akan tetapi, penjelasan itu belum sepenuhnya selaras dengan tangan serta kaki berjari panjang yang lazim dikaitkan dengan penghuni lingkungan perairan.
“Untuk saat ini, hal tersebut masih menjadi misteri yang harus kami jawab melalui penelitian di masa depan,” kata Castillo-Visa. Kombinasi informasi tentang tulang, kulit, sisik, organ sensorik, dan corak ekor menjadikan spesimen ini penting untuk membaca tahap awal evolusi buaya dengan lebih hati-hati.






