Beda Makna Rp 200 Miliar di Sidang Doktif dan Richard Lee, Ini Penjelasannya

Angka Rp 200 miliar menjadi pusat perbedaan keterangan antara Dokter Detektif (Doktif) dan Richard Lee dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang. Richard Lee menyebut nominal itu sebagai permintaan untuk menghentikan kasus, sedangkan Doktif menyatakan angka tersebut terkait kerugian masyarakat.

Doktif menolak tudingan bahwa dirinya meminta uang damai. Ia menegaskan pembicaraan mengenai dana itu tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi.

Menurut Doktif, nominal yang disinggung dalam perkara tersebut seharusnya dilihat sebagai hak masyarakat yang perlu dikembalikan. Ia mengaitkannya dengan perhitungan kerugian dari penjualan yang menjadi perhatian dalam sengketa itu.

Doktif mengatakan nilai kerugian yang didengarnya dapat mencapai sekitar Rp 250 miliar. Karena itu, ia mempersoalkan anggapan bahwa dirinya meminta jumlah tersebut sebagai bagian dari perdamaian.

Penjelasan soal Pengembalian Dana

Dalam keterangannya, Doktif menyatakan tidak mungkin berdamai demi keuntungan pribadi. Ia menyebut jika perdamaian dibicarakan, dana yang dinilai sebagai hak masyarakat seharusnya dikembalikan kepada masyarakat.

Pernyataan tersebut menjadi dasar bantahannya terhadap narasi permintaan uang damai. Doktif menekankan bahwa pembahasan nominal berasal dari upaya menghitung besaran kerugian, bukan tuntutan pembayaran untuk dirinya.

Penjelasan Doktif bertolak belakang dengan keterangan Richard Lee. Richard Lee mengaku memiliki bukti yang berkaitan dengan tuduhan bahwa Doktif meminta uang sebagai syarat untuk membubarkan perkara.

Di hadapan persidangan, Richard Lee menanyakan apakah Doktif meminta Rp 200 miliar agar kasus terhadapnya dihentikan. Ia juga menduga laporan yang telah dilayangkan Doktif merupakan bagian dari upaya pemerasan.

Keterangan soal Pertemuan

Persidangan turut membahas pertemuan yang disebut berlangsung pada 16 Januari. Menurut Richard Lee, pertemuan itu digelar di sebuah rumah dan melibatkan rekannya yang bernama Ivan.

Richard Lee menyatakan Ivan tidak diizinkan membawa telepon genggam maupun barang lain ke lokasi. Keterangan itu disampaikannya ketika menyoal pertemuan yang menurutnya berlangsung dengan pengamanan ketat.

Doktif tidak membantah bahwa pertemuan tersebut pernah terjadi. Namun, ia membantah pernah mengajak Ivan untuk bertemu secara langsung.

Penolakan Doktif terhadap tuduhan tersebut melengkapi perbedaan versi antara kedua pihak. Selain membantah ajakan kepada Ivan, ia tetap membantah adanya permintaan Rp 200 miliar sebagai uang perdamaian.

Dua Narasi yang Berlawanan

Hot.detik.com menyebut pertemuan yang dipersoalkan Richard Lee terjadi pada awal 2026. Meski demikian, keterangan para pihak di persidangan menunjukkan perbedaan mendasar soal tujuan pertemuan dan konteks pembicaraan nominal.

Richard Lee memaknai angka Rp 200 miliar sebagai permintaan untuk membubarkan kasus. Sebaliknya, Doktif menyebut angka itu sebagai bagian dari pembahasan kerugian yang menurutnya harus dikembalikan kepada masyarakat.

Perkara tersebut kini memperlihatkan perselisihan bukan hanya mengenai adanya pertemuan, tetapi juga isi pembicaraan di dalamnya. Kedua pihak mempertahankan penjelasan masing-masing di Pengadilan Negeri Tangerang.

Doktif kembali menegaskan bahwa tidak ada permintaan dana untuk dirinya. Posisi yang ia sampaikan tetap sama, yakni nominal itu merujuk pada kerugian masyarakat dan bukan uang damai.

Baca Juga