Dari Bahrain ke Diego Garcia, Rantai Pasokan AS Membebani USS Abraham Lincoln

Rantai pasokan Angkatan Laut AS untuk kapal-kapal yang beroperasi di Teluk Oman berubah drastis setelah Iran menyerang pangkalan di Bahrain. Pengiriman kebutuhan kemudian harus dilakukan dari Pulau Diego Garcia yang berjarak lebih dari 3.500 kilometer dari dua gugus tempur kapal induk AS.

Jarak tersebut menambah tantangan distribusi bagi USS Abraham Lincoln yang tengah menjalani penugasan berkepanjangan. Kondisi itu menjadi penting karena kapal induk tersebut juga disorot akibat laporan mengenai pasokan terbatas, kontaminasi air, dan kesejahteraan awak.

Pusat logistik dipindahkan jauh dari area operasi

Sebelum serangan Iran pada awal perang, pangkalan angkatan laut AS di Bahrain digunakan sebagai pusat operasi logistik. Fasilitas itu mendukung serangan AS terhadap Iran sebelum jalur logistik harus dialihkan.

Menurut The New York Times, operasi kemudian dipindahkan ke pangkalan militer Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia. Perubahan lokasi membuat kapal-kapal perang AS harus menunggu pasokan yang dikirim melalui jarak lebih jauh menuju kawasan Teluk Oman.

Gangguan pada sistem logistik ini berlangsung ketika USS Abraham Lincoln bertugas di wilayah tersebut. Situasi itu memunculkan sorotan bahwa kebutuhan operasi kapal dan kesejahteraan awak harus ditangani secara bersamaan.

Lokasi atau peristiwaPeran atau dampakWaktu
BahrainPusat logistik AS sebelum fasilitas diserang Iran.Awal perang
Diego GarciaPusat logistik pengganti di Samudra Hindia.Setelah serangan
Teluk OmanWilayah operasi dua gugus tempur kapal induk AS.Penugasan berlangsung
Surat BlumenthalMeminta penyelidikan kondisi USS Abraham Lincoln.12 Agustus 2026

Keluhan kondisi kapal masuk perhatian Senat

Richard Blumenthal, senator Demokrat dan veteran Korps Cadangan Marinir AS, meminta penyelidikan atas keadaan USS Abraham Lincoln. Surat itu dikirim kepada Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao serta Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada 12 Agustus 2026.

Blumenthal menyoroti laporan mengenai keterbatasan pasokan, kontaminasi air, dan masalah lain yang dapat memengaruhi kapal serta personelnya. Ia menilai persoalan tersebut berkaitan dengan pemeliharaan kapal, jadwal operasi, dan kesiapan tempur Angkatan Laut AS.

Permintaan itu tidak hanya menyoroti satu kapal induk, melainkan juga kemampuan armada mengelola penugasan panjang. Dalam pandangan Blumenthal, kesiapan menghadapi krisis mendatang berkaitan erat dengan kondisi kapal dan awak saat operasi berjalan.

Bantahan atas isu kesehatan mental

Di tengah pembahasan kondisi kapal, beredar pula isu bahwa sejumlah awak diduga mencoba melompat dari USS Abraham Lincoln. Dugaan itu muncul bersamaan dengan perhatian terhadap persoalan kebersihan dan keselamatan di kapal.

CENTCOM menolak klaim tersebut lewat unggahan di platform X pada 13 Agustus 2026. Komando itu membantah adanya awak USS Abraham Lincoln yang mencoba melompat dari kapal induk.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan kekhawatiran terhadap masa penugasan kapal belum beralasan. Dikutip The New York Times, Trump mengatakan masa tugas USS Abraham Lincoln saat itu belum cukup lama.

Trump turut mengatakan bahwa keluarga awak tidak merasakan kekhawatiran yang ditanyakan kepadanya. Namun, gangguan logistik pascaserangan di Bahrain dan permintaan penyelidikan dari Senat membuat kondisi USS Abraham Lincoln tetap menjadi isu penting dalam operasi AS di kawasan.

Baca Juga