Babak Akhir Seni Merayu Tuhan Dinilai Terlalu Menggurui Setelah Duka yang Kuat

Seni Merayu Tuhan dinilai berhasil membangun duka yang intim melalui tokoh Hikmah, tetapi kekuatannya berkurang menjelang penutup. Babak ketiga membuat film terasa lebih menggurui ketika unsur agama tampil semakin dominan.

Perubahan itu kontras dengan dua babak awal yang memberi ruang besar bagi penonton untuk merasakan kegelisahan tokoh utama. Pada fase awal, film tidak terburu-buru menawarkan jalan keluar bagi luka yang dialami Hikmah.

Babak Awal Mengandalkan Pergulatan Batin

Menurut Kompas.com, Seni Merayu Tuhan berjalan apik sejak awal hingga babak kedua. Film mengandalkan pencarian makna seorang pemuda ketika hidupnya ambruk setelah kehilangan orang terdekat.

Hikmah merasa sulit mendoakan Halimah, ibunya yang telah meninggal dunia. Ketidakmampuan itu membuat rasa bersalahnya semakin besar dan membawanya pada usaha untuk mempelajari agama.

Film tidak menggambarkan doa sebagai solusi seketika bagi kondisi Hikmah. Berbagai doa dan kebaikan yang dilakukannya belum membuat sosok Halimah berhenti datang ke dalam mimpinya.

Keadaan tersebut menjadikan perjalanan Hikmah lebih dari sekadar pencarian religius. Ia berusaha berdamai dengan rasa rindu, penyesalan, dan pertanyaan mengenai makna kebaikan yang kembali ia hadapi.

Kehilangan Berawal dari Jarak di Rumah

Sebelum menghadapi kematian ibunya, Hikmah bekerja sebagai editor untuk seorang kreator konten. Kesibukan itu membuatnya kurang menyadari bahwa Halimah sangat merindukan kehadirannya di rumah.

Halimah diperankan Rieke Diah Pitaloka, sedangkan Hikmah dimainkan Ari Irham. Kepergian Halimah membuat Hikmah menyandang status anak yatim-piatu dan kehilangan pijakan dalam kesehariannya.

Ruang kosong setelah kematian Halimah tidak dapat ditutup oleh aktivitas rutin. Mimpi tentang ibunya kemudian menjadi salah satu unsur yang menjaga tekanan emosional cerita.

Sofia Membawa Persoalan Berbeda

Film garapan Cesa David juga mempertemukan Hikmah dengan konflik cinta beda agama bersama Sofia. Sofia yang diperankan Lutesha hadir ketika Hikmah belum sepenuhnya pulih dari duka atas ibunya.

Hubungan tersebut menambah pertanyaan yang harus dihadapi Hikmah tentang keyakinan dan pilihan hidup. Film menempatkan persoalan cinta itu sebagai ujian lain yang datang pada saat kondisi batinnya belum stabil.

Dengan dua konflik tersebut, perjalanan Hikmah bergerak antara urusan keluarga dan relasi personal. Keduanya memperlihatkan bahwa pencarian iman dalam film tidak berlangsung di ruang yang terpisah dari persoalan hidup sehari-hari.

Pesan yang Mengurangi Daya Magis Cerita

Masuk ke babak ketiga, intensitas konflik yang sebelumnya kuat disebut mulai menurun. Unsur agama disampaikan dengan lebih tegas dan membuat film kehilangan sebagian cara halusnya dalam menggambarkan pergulatan tokoh.

Pada bagian awal, cerita membiarkan penonton menangkap sendiri makna dari kehampaan Hikmah. Pendekatan di akhir justru menciptakan jarak dengan emosi yang telah lebih dulu dibangun.

Walau demikian, film ini tetap menyisakan refleksi mengenai hubungan antara luka dan iman. Kehilangan dalam kisah Hikmah tidak digambarkan selesai hanya oleh doa, melainkan oleh usaha berkelanjutan untuk memahami diri sendiri.

Seni Merayu Tuhan mulai tayang di bioskop pada Kamis, 13 Agustus 2026. Film ini menghadirkan kisah seseorang yang mencoba berjalan bersama duka dan keyakinannya, meski jawabannya tidak selalu datang dengan cepat.

Baca Juga