Amerika Serikat dilaporkan memilih melindungi personel militernya meski sebagian fasilitas pangkalan berisiko terkena serangan Iran. Sejumlah rudal dan drone dapat dibiarkan melintas apabila tidak diarahkan ke area yang berpotensi membahayakan pasukan AS.
Keputusan itu diambil di tengah tekanan terhadap persediaan rudal pencegat pertahanan udara. Komandan AS harus mengalokasikan amunisi secara selektif agar cadangan tetap tersedia untuk menghadapi ancaman paling berbahaya.
Menurut NBC News, dua pejabat senior AS mengonfirmasi adanya perubahan pola intersepsi terhadap proyektil Iran. Komandan disebut dapat tidak menembak jatuh ancaman yang menyasar lokasi tanpa kehadiran personel AS.
Dengan demikian, pertahanan udara tidak lagi semata-mata ditujukan untuk mencegah setiap serangan mencapai kawasan pangkalan. Fokus utamanya adalah menghentikan rudal atau drone yang memiliki risiko langsung terhadap keselamatan prajurit.
Fasilitas Tetap Berada dalam Risiko
Proyektil yang tidak dicegat bukan berarti tidak berbahaya. Dalam beberapa kasus, serangan tersebut tetap dapat menimbulkan kerusakan pada infrastruktur pangkalan, meski sasarannya tidak berada di area berpersonel.
Pertimbangan ini digunakan untuk mengurangi penggunaan amunisi pada sasaran yang tidak dinilai sebagai ancaman langsung terhadap jiwa personel. Risiko terhadap bangunan dan fasilitas menjadi konsekuensi dari upaya mempertahankan stok pencegat.
| Ancaman Udara | Lokasi Tujuan | Respons yang Dilaporkan |
|---|---|---|
| Rudal atau drone Iran | Area dengan personel AS | Dihadapi dengan pencegatan |
| Rudal atau drone Iran | Area tanpa personel AS | Dapat dibiarkan melintas |
Rudal pencegat merupakan komponen penting untuk menghadapi ancaman dari rudal dan pesawat nirawak. Keterbatasan stok membuat penggunaan senjata tersebut harus disesuaikan dengan tingkat bahaya dari setiap serangan yang datang.
Tekanan pada Amunisi Strategis
CBS sebelumnya melaporkan pemerintahan Presiden Donald Trump mencemaskan laju penggunaan persenjataan AS. Kekhawatiran itu terkait kemungkinan cadangan pertahanan udara strategis semakin terkuras jika konflik berjalan lebih panjang.
Cadangan Patriot turut menjadi perhatian dalam perhitungan tersebut. Berkurangnya stok amunisi ini dapat membatasi kemampuan pertahanan udara AS untuk merespons ancaman di Timur Tengah.
Trump juga disebut menunda rencana untuk meningkatkan operasi militer terhadap Iran secara signifikan. Risiko pengurasan rudal Patriot dan amunisi pertahanan udara strategis lain disebut berkaitan dengan penundaan tersebut.
Laporan soal persediaan pencegat yang menipis mendapat bantahan dari Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz. Dalam wawancara dengan NBC News pada Minggu, 26 Juli, ia meminta masyarakat tidak mempercayai informasi yang bersumber dari kebocoran data rahasia militer.
Waltz juga mengatakan pembocor informasi rahasia militer seharusnya dipenjara. Pernyataan itu disampaikan ketika penggunaan senjata AS dalam operasi di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian luas.
Perbedaan antara laporan pejabat yang dikutip NBC News dan bantahan Waltz menunjukkan sensitifnya isu cadangan amunisi. Namun, pola prioritas yang dilaporkan tetap menggambarkan dilema komando AS antara mempertahankan fasilitas dan menyelamatkan personel.
Dalam kondisi stok terbatas, keputusan mencegat tidak hanya bergantung pada keberadaan proyektil musuh. Sasaran serangan dan ancaman langsung terhadap pasukan menjadi faktor utama dalam menentukan penggunaan pencegat.






