Dua titik di Bumi mencatat perbedaan suhu yang sangat lebar pada periode yang sama sepanjang 2026. Stasiun Penelitian Concordia di Antartika Timur turun hingga minus 84,1 derajat Celsius, sementara Omidieh di Iran mencapai 52,7 derajat Celsius.
Selisih kedua pengukuran itu mencapai 136,8 derajat Celsius. Kontras tersebut terjadi ketika sejumlah wilayah di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia menghadapi gelombang panas ekstrem.
| Lokasi | Suhu | Keterangan |
|---|---|---|
| Stasiun Concordia, Antartika Timur | -84,1°C | Tercatat pada 18 Juli 2026 |
| Omidieh, Iran | 52,7°C | Suhu tertinggi sejauh 2026 |
| Stasiun Vostok, Antartika | -89,2°C | Rekor dunia pada 21 Juli 1983 |
Pengukuran di Concordia pada 18 Juli 2026 menjadi suhu terendah yang tercatat di mana pun di Bumi sejak September 2012. Namun, angka itu belum menggantikan rekor suhu terendah resmi dunia.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO masih mengakui catatan minus 89,2 derajat Celsius di Stasiun Vostok, Antartika, pada 21 Juli 1983 sebagai rekor dunia. Selisih antara catatan Concordia dan rekor Vostok mencapai 5,1 derajat Celsius.
Dekat dengan rekor lokal Concordia
Suhu minus 84,1 derajat Celsius juga hanya berjarak 0,5 derajat Celsius dari rekor terendah Stasiun Concordia sendiri. CNBC Indonesia, yang mengutip Deseret News, menyebut rekor lokal stasiun itu berada di minus 84,7 derajat Celsius pada Agustus 2010.
Catatan terbaru itu muncul pada puncak musim dingin di belahan Bumi selatan. Wilayah Antartika diperkirakan masih berpeluang mengalami temperatur lebih rendah hingga akhir Agustus, sebelum musim dingin berakhir.
Malam kutub dan dataran tinggi
Concordia berada jauh di pedalaman benua Antartika Timur, dengan ketinggian lebih dari 3.200 meter di atas permukaan laut. Letaknya yang tidak dekat pesisir membuat kawasan tersebut tidak banyak menerima pengaruh kondisi laut.
Pada musim dingin, daerah ini mengalami malam kutub ketika matahari tidak terbit selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Ketiadaan sinar Matahari langsung membatasi pemanasan yang dapat menaikkan temperatur permukaan.
Udara di sekitar stasiun juga tipis dan kering, sehingga hanya sedikit unsur yang menahan sisa panas. Lapisan es dapat melepaskan panas ke langit yang cerah, lalu membantu suhu turun semakin jauh.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa suhu ekstrem dingin dapat muncul di Concordia saat belahan Bumi utara menjalani musim panas. Perbedaan musim antara utara dan selatan menjadi konteks utama dari dua catatan temperatur yang bertolak belakang itu.
Fenomena di Antartika tidak membantah adanya perubahan iklim global. Peristiwa ini justru memperlihatkan bahwa panas yang memecahkan rekor dan dingin luar biasa dapat terjadi bersamaan di kawasan yang berbeda.






